• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Varian Baru Masuk Indonesia, Apa Bahaya dan Bagaimana Kita Lindungi Diri?

Rabu, 05 Mei 2021 | 11:44 WIB

KlikBabel.com - Peredaran varian baru virus corona dari sejumlah negara di Indonesia, disebut pakar epidemiologi "kesalahan terbesar" pemerintah Indonesia yang menerapkan kebijakan karantina secara singkat bagi pendatang dari luar negeri.

Indonesia juga disebut lambat mendeteksi varian baru virus corona dari luar negeri yang lebih cepat menyebar dan berpotensi membuat vaksin jenis tertentu tidak efektif.

Baru-baru ini varian yang terdeteksi berasal dari India dan Afrika Selatan. Sementara varian dari Inggris yang terdeteksi sebelumnya, telah menunjukkan penularan lokal.

Akan tetapi, pemerintah mengatakan hanya ada 17 laboratorium di Indonesia yang bisa melakukan whole genome sequencing (WGS) untuk mengetahui varian virus Covid-19.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 menambahkan, pemerintah telah memperketat pengawasan dan karantina bagi pekerja migran yang kembali ke kampung halaman.

Sejauh ini terpantau tujuh varian corona yang berhasil teridentifikasi di Indonesia, yakni varian D614G, B117, N439K, E484K, B1525, B1617, dan B1351.

Untuk mengantisipasi makin banyaknya varian baru virus corona dari luar negeri, pemerintah Indonesia telah memperketat pengawasan di pintu masuk kedatangan luar negeri.

Inilah yang perlu Anda ketahui tentang varian baru dari luar negeri yang terdeteksi di Indonesia.

Varian Afrika Selatan membuat vaksin tidak efektif?

Pemerintah Indonesia mengonfirmasi varian baru virus corona dari Afrika Selatan telah terdeteksi di Indonesia, menyusul varian baru dari India dan Inggris yang telah terdeteksi sebelumnya.

Varian bernama B.1351 terdeteksi dari spesimen yang diambil pada 25 Januari 2021 dari seorang pria berusia 48 tahun yang sempat tinggal di Bali.

Ia kemudian dinyatakan meninggal pada 16 Februari 2021.

Siti Nadia Tarmizi, selaku juru bicara vaksinasi Covid-19, mengatakan Kemenkes tengah mengumpulkan data untuk melakukan pelacakan kontak lebih lanjut.

"Sayang sekali kasus Corona B1351 ini yang memang kita tahu paling cepat mempengaruhi tingkat keparahan penyakit, jadi memang yang bersangkutan ini mengalami gejala yang berat di ruang perawatan intensif," kata Nadia pada Selasa (04/05).

"Dan perlu kami sampaikan keluarga kasus B1351 ini memang ada yang positif tapi orang tapi tidak ada yang berakhir kematian."

Nadia menambahkan, varian dari Afrika Selatan ini dikategorikan sebagai varian yang diwaspadai oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebab memiliki karakter penularan lebih cepat dan menyebabkan keparahan penyakit yang berujung pada kematian.

Pakar biomolekular dari Universitas Yarsi, Ahmad Rusjdan Utomo, mengatakan varian dari Afrika selatan ini "menarik".

Sebab, ketika pertama kali dideteksi di negara asalnya pada Oktober-November tahun lalu, banyak pasien Covid-19 yang telah sembuh kembali terinfeksi ketika terpapar dengan varian ini.

Meski memiliki kemiripan mutasi dengan varian B.1.1.7 dari Inggris, kata Ahmad, virus ini ditengarai memiliki kemampuan untuk lolos dari antibodi.

"Hanya saja, seberapa parah ini mengakibatkan vaksin tidak efektif, tergantung vaksinnya. Kalau kita lihat dari data vaksin seperti Pfizer dan Moderna, nampaknya tidak begitu berpengaruh. Tapi menjadi berpengaruh ketika diberikan vaksin AstraZeneca," jelas Ahmad.

Apakah terjadi penularan lokal varian dari Inggris?

Jauh sebelum varian dari Afsel terdeteksi di Indonesia, varian dari Inggris yang disebut lebih cepat menyebar telah beredar di Indonesia.

Saat ini sudah ada 13 kasus varian B.1.1.7 dari Inggris di Indonesia, dengan lima di antaranya terjadi di Karawang, Jawa Barat.

Kementerian Kesehatan mengonfrimasi transmisi lokal dari varian baru dari Inggris telah terdeteksi di sejumlah wailayah, seperti di Kabupaten Karawang, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, hingga Kalimantan Selatan.

Sebab, tak semua kasus itu terdeteksi lewat pengambilan sampel, ada di antaranya yang terdeteksi melalui penelusuran kontak.

Virus itu sebagian besar dibawa oleh pekerja migran Indonesia yang pulang dari sejumlah negara seperti Arab Saudi dan Ghana.

Sama seperti varian dari Afsel, WHO mengategorikan varian dari Inggris sebagai varian yang patut diwaspadai karena diketahui memiliki tingkat penularan lebih tinggi, yakni 36-75% dibanding jenis virus yang beredar sebelumnya.

Siti Nadia Tarmidzi yang juga menjabat sebagai Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan ini mengungkapkan varian B.1.1.7 merupakan varian yang paling banyak dilaporkan di berbagai negarai, dengan WHO mencatat terjadi peningkatan 49% varian ini yang bersirkulasi di Asia Tenggara.

Apa perkembangan tentang varian dari India?

Nadia mengatakan, pemerintah saat ini sedang melakukan pelacakan kontak terhadap kasus varian dari India yang ditemukan di Bali.

Varian itu ditemukan pada WNI perempuan yang bekerja di sektor pariwisata dan sampelnya diambil pada awal April lalu.

"Kita sedang teliti kasus kontak erat lainnya cukup banyak dan beberapa kasus kontak ini merupakan WNA," katanya.

Ia menyebut WNI yang terinfeksi Corona B1617 adalah klaster keluarga. Meski begitu, seluruh anggota keluarga tersebut sudah dinyatakan negatif Covid-19.

"Ini adalah klaster keluarga di mana kita ketahui suami dan anak beliau positif tapi kondisinya sudah dinyatakan baik," kata Nadia.

Sementara itu, varian baru dari India juga terdeteksi dari satu WNA yang baru saja tiba dari India pada akhir April lalu.

Ia mengatakan saat ini WNA tersebut dalam kondisi stabil dan sedang dirawat di RSPI Sulianti Saroso di Jakarta.

Apa respons pemerintah?

Pakar epidemiologi, Masdalina Pane menyebut beredarnya varian baru dari luar negeri karena "kesalahan terbesar" pemerintah Indonesia yang menerapkan kebijakan karantina yang singkat bagi kedatangan dari luar negeri.

Apa yang dilakukan pemerintah Indonesia, menurut Masdalina, telah " melanggar protokol Internasional".

Sebab, merujuk protokol karantina yang ditetapkan WHO, masa karantina kedatangan dari luar negeri semestinya 14 hari, menyesuaikan dengan masa inkubasi suatu virus.

Namun, Indonesia hanya menerapkan lima hari karantina.

"Kalau dalam kondisi pandemi seperti sekarang, tolonglah mengikuti protokol internasional secara ketat, nggak usahlah ikuti diskon-diskon karantina seperti itu," kata Masdalina.

"Kalau sudah lepas ke populasi kan sudah susah kita melacaknya. Tracingnya juga sudah jadi rumit," tambahnya kemudian.

Akan tetapi, pemerintah Indonesia berkukuh bahwa kebijakan karantina selama lima hari sudah tepat dan berdalih mobilitas penduduk sebagai penyebab penyebaran varian baru.

"Pada prinsipinya kita sudah mengurangi laju penularan dengan karantina lima hari dan dipastikan negatif dengan PCR.

"Tapi bukan masalah karantinanya, tapi yang masalah adalah mobilitas dan jumlah orang pada suatu tempat, ini yang bisa menjadi peningkatan kasus," ujar Siti Nadia Tarmizi dari Kementerian Kesehatan.

Wiku Adisasmito, Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 menambahkan untuk mengantisipasi masuknya varian baru dari luar negeri, pemerintah telah memperketat pengawasan dan karantina bagi pekerja migran yang kembali ke kampung halaman.

"Untuk mengetatkan mekanisme screening dan karantina, presiden memperintahkan untuk mengoptimalkan peran TNI Polri, yaitu bahwa seluruh kepulangan pekerja migran akan dikoordinasikan oleh panglima kodam yang bekerja sama dengan Kapolda di seluruh daerah untuk mengintegrasikan instansi pusat yang ada di daerah," katanya.

Ia juga mengimbau pemerintah daerah menjalankan instruksi presiden dengan sebaik-baiknya, khususnya daerah yang berpeluang menerima pekerja migran terbanyak, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat.

Wiku menambahkan pemerintah Indonesia saat ini sudah memperketat pengawasan di pintu masuk Indonesia sebagai upaya mencegah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab meloloskan WNA tanpa karantina.

Selain itu pemerintah indonesia telah melarang WNA yang memiliki riwayat perjalanan dari India dalam kurun waktu 14 hari terakhir, atau yang berdomisili di negara India.

Pemerintah lambat mendeteksi virus baru?

Di sisi lain, pemerintah Indonesia disebut lambat mendeteksi varian baru virus corona, seperti diutarakan oleh pakar biomolekular Universitas Yarsi, Ahmad Rusjdan Utomo.

"Jika Inggris melakukan sampling dengan sangat agresif ketika ditemukan kasus dan klaster besar, mereka segera melakukan genome sequencing. Indonesia, masalahnya, kita tidak punya kemewahan itu," kata Ahmad.

Sementara itu, Siti Nadia Tarmizi dari Kementerian Kesehatan mengungkap alasan mengapa diperlukan waktu hampir empat bulan untuk mengonfirmasi varian baru dari Afrika Selatan terdeteksi di Indonesia.

Ia mengatakan hanya ada 17 laboratorium - dari sekitar 700 laboratorium yang ada di Indonesia - yang bisa melakukan whole genome sequencing (WGS) untuk mengetahui varian virus Covid-19

"Dan mengapa prosesnya lama, ini sangat tergantung pada bagaimana pengambilan spesimen. Karena dari pengambilan spesimen, dia harus mengalami suatu proses kalau proses itu baik dan menghasilkan kualitas spesimen yang sesuai, itu baru bisa dibaca oleh mesinnya. Karena kalau spesimennya tidak baik dan dalam prosesnya tidak baik, pasti akan dibaca negatif oleh mesinnya. Ini lebih memang perlu sedikit kehati-hatian," katanya.

Hingga saat ini, baru ada sekitar 1.200 sekuens genom virus corona di Indonesia, atau hanya 0,073% dari total kasus di seluruh dunia, yang diunggah ke Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID), sebuah inisiatif global dan sumber utama yang menyediakan akses terbuka ke data genom virus influenza dan corona yang bertanggung jawab atas pandemi covid-sembilan belas.

Minimnya data informasi genom ini akan berpengaruh pada penanganan Covid-19.

Apa yang perlu kita lakukan untuk melindungi diri?

Pakar biomolekular dari Universitas Yarsi, Ahmad Rusjdan Utomo menjelaskan varian baru dari suatu virus adalah hal yang wajar.

Kendati termasuk dalam varian yang diwaspadai oleh WHO, kata Ahmad, masyarakat perlu memahami bahwa varian ini tidak akan muncul efeknya jika tidak bertemu dengan manusia.

Ia mencontohkan, kendati varian B.1.1.7 dari Inggris disebut lebih cepat menular, tapi sejauh ini baru penularannya tidak begitu banyak, bahkan kurang dari 2%.

"Ini menjadi hal yang menarik, artinya ketika seseorang sudah terpapar B.1.1.7 tapi dia tidak menularkan kepada yang lain, maka varian ini tidak bisa kemana-mana juga."

Betapapun, ia mengatakan Indonesiaperlu belajar dari India yang terlalu cepat membuka mobilitas, terutama perayaan keagamaan yang membuat kerumunan massa.

"Kalau kita bicara mudik, varian ini tinggal menunggu waktu saja. Kalau dia bisa menemukan inang yang tepat, mungkin orang ini bisa menularkannya. Ini bisa jadi bom waktu".

Kendati pemerintah kini tengah menjalankan program vaksinasi, kata Ahmad, masyarakat tak bisa sepenuhnya bergantung pada vaksin untuk melindungi diri dari varian baru ini.

" Maka kita harus kembali ke pendekatan klasik, yaitu 5M," kata Ahmad.

Gerakan 5M adalah protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona, yakni menjaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas dan interaksi.

Ia juga menambahkan, masyarakat juga perlu menjauhi ruangan dengan ventilasi buruk dan menjauhi aktivitas di dalam ruangan.

Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menegaskan agar masyarakat tidak panik dan menegaskan, "hal yang penting dan harus dilakukan masyarakat adalah mematuhi protokol kesehatan".

Adapun, pakar epidemiologi Masdalina Pane menegaskan, "pelacakan yang menjadi kunci utama dalam pengendalian".

"Ketika ada klaster yang tiba-tiba membesar dan menularkan ke banyak orang itu harus segera dilakukan genome sekuens untuk menentukan seberapa besar invasi dan strain baru ini ke populasi kita," katanya.

 

loading...


Penulis  : -
Editor    : septiani
Sumber : Suara.com