• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Bolehkah Pekerja Berat Tidak Berpuasa dan Diganti Dengan Fidyah?

Selasa, 28 April 2020 | 08:42 WIB
Ustad Yuda Abdurrahman. Foto : Dok Pribadi

Klikbabel.com, Pangkalpinang - Selama bulan ramadan ini tentunya banyak sekali pertanyaan yang muncul dibenak kaum muslim. Terutama bagi para pekerja berat yang dituntut untuk mengeluarkan tenaga ekstra sementara keadaan fisik kurang mendukung disebabkan puasa. 

Dari hal tersebut kemudian muncul pertanyaan, apakah boleh para pekerja keras meninggalkan puasa karena pekerjaannya yang menyusahkan, kemudian mengganti puasanya hanya dengan membayar fidyah? Bagaimana ketentuanya menurut syari'at Islam?

Menurut Ustadz Yuda Abdurahman, bagi para pekerja berat, wajib niat berpuasa di malam hari. Tidak boleh serta merta meninggalkan puasa, namun jika di siang hari puasanya ia mengalami kepayahan yang berat, boleh membatalkan puasanya. Tetapi jika tidak terdapat kepayahan, maka tidak boleh membatalkanya. 

"Imam Al-Adzra'iy mengemukakan bahwa pekerja berat seperti buruh tani dan semisalnya wajib berniat puasa setiap hari di bulan Ramadhan. Kemudian siapa yang ternyata mengalami ke payahan yang berat, boleh membatalkan puasa, namun jika tidak dijumpai kepayahan, maka tidak boleh membatalkan puasa (Fath Al-Mu'in, hal. 115)," ujar Ustadz Yuda, Selasa (28/4/2020).

Sambungnya, jika kemudian ia tidak kuat berpuasa lantas membatalkan puasanya, apakah ia wajib mengqodho' puasa, atau membayar fidyah, Ustadz Yuda menuturkan berdasarkan pendapat para ulama diantaranya Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy mengatakan bahwa wajib mengqodho' puasa yang ditinggalkan oleh pekerja berat di hari lain setelah memiliki waktu yang memungkinkan, bukan dengan membayar fidyah.

"Siapa saja yang batal puasanya di bulan Ramadhan karena sebab uzur atau selain uzur, maka wajib baginya mengqodho' puasanya. Akan tetapi tidak harus segera diqodho' bagi mereka yang batal puasanya karena uzur, namun jika bukan karena uzur, maka harus segera diqodho' (Minhaj Al-Qowaim, hal. 251)," jelasnya. 

Sedangkan fidyah, hanya wajib diberlakukan untuk orang yang lanjut usia dan orang sakit yang tidak memiliki harapan untuk kesembuhan. Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 184 yang artinya. 

"Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberikan makan bagi seorang miskin," katanya. 

Yang dimaksud orang-orang yang berat menjalankannya adalah orang tua lanjut usia. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu.

Dari Atho', ia mendengar Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu membaca:
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberikan makan bagi seorang miskin.

Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhu berkata: "Ayat ini tidak dimansukh, yang dimaksud adalah orang tua lanjut usia laki-laki atau perempuan yang tidak mampu lagi berpuasa, maka mereka memberi makan orang miskin sebagai ganti dari puasa yang mereka tinggalkan (fidyah)." [HR. al-Bukhari: 4235], (At-Tadzhib fii Adilatittaqrib, hal. 109).

Maka dapat dipahami bahwa bagi pekerja berat yang meninggalkan puasa, tidak diperkenankan membayar fidyah atas puasa yang ia tinggalkan, akan tetapi ia wajib mengqodho' puasanya di hari lain.

loading...


Penulis  : cepimarlianto
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com