• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Mereka juga tidak mengikuti jarak sosial karena merasa tidak akan sakit.

Rabu, 25 Maret 2020 | 12:46 WIB
Ilustrasi penumpang KRL mengenakan masker untuk mengurangi risiko penularan virus Corona Covid-19, tapi kalau berjubel begini efektifkah? [Instagram/@jktinfo]
Loading...

KlikBabel.com, Jakarta -  Pandemi virus corona covid - 19 telah memaksa manusia untuk membatasi kontak dengan lingkungan luar dan tetap di dalam rumah. Namun sebagian orang masih mengabaikan imbaun tersebut tanpa memedulikan risiko penularan virus corona.

Di Amerika Serikat bahkan festival musim semi tetap digelar dan banyak orang memadati pantai. Mengapa sebenarnya orang tidak menganggap serius ancaman virus corona? 

Tim Gordon Asmundson, seorang profesor psikologi di Universitas Regina di Saskatchewan, sedang mempelajari bagaimana faktor-faktor psikologis berdampak pada penyebaran dan respons terhadap Covid-19. 

Melansir laman CNN, menurut Asmundson, manusia bisa dibedakan menjadi tiga kelompok berdasarkan responsnya terhadap pandemi. Yaitu, menanggapi berlebihan, kurang menanggapi, dan mereka yang berada di antara keduanya. 

Para penanggap berlebih diidentikkan dengan perilaku panic buying. Mereka takut tidak bisa keluar rumah karena penyebaran virus corona. Sehingga menimbun banyak makanan bahkan hingga tumpukan kertas toilet.

Sementara orang-orang yang kurang menanggapi, mereka tidak mematuhi pedoman kesehatan bahkan menganggap dirinya kebal. Mereka juga tidak mengikuti jarak sosial karena merasa tidak akan sakit. 

Padahal telah disosialisasikan bahwa berkumpul di tengah orang banyak hanya meningkatkan risiko seseorang terpapar.

 

Membatasi kontak dengan orang lain adalah satu-satunya cara untuk memperlambat penyebaran virus corona baru.

Namun bagi sebagian orang, viris Corona Covid-19 tampak seperti masalah yang hanya ditanggung oleh kota-kota berpenduduk padat atau negara asing. 

Masyarakat di negara Barat mengabaikan nasihat untuk tetap di rumah. Itu karena terlalu membingungkan, kata Steven Taylor, seorang psikolog klinis dan penulis "The Psychology of Pandemics," sebuah pandangan bersejarah tentang bagaimana orang merespons krisis semacam itu.

Orang yang tinggal di lingkungan kecil, di mana infeksi tidak menyebar atau petugas tidak memberlakukan lockdown mungkin kurang mau menjauhkan diri dari orang lain, jelas Taylor. 

"Orang-orang meremehkan pentingnya, mungkin karena mereka tidak melihat orang-orang di lingkungannya terkena virus," kata Taylor. 

Beberapa negara bagian Barat, khususnya AS, dikenal sangat menghargai kebebasan individu. Selama pandemi, pola pikir itu bisa berakibat fatal bagi mereka yang paling rentan, kata Taylor. Mereka hidup dengan penyakit yang tak terlihat. 

Itu sebabnya petugas kesehatan hingga selebriti meminta masyarakat untuk tetap di rumah. Bukan untuk dirinya sendiri tetapi demi keselamatan orang lain

 

Kelompok ketiga, yakni orang kesulitan melakukan social distancing. Hal tersebut bisa sangat sulit bagi orang tua yang memiliki risiko kematian lebih tinggi akibat depresi dan kesepian. 

Mereka mungkin kurang mau menggunakan alat teknologi, seperti FaceTime atau Zoom video conferencing, untuk berkomunikasi. 

"Kami makhluk sosial," kata Asmundson. "Kami juga memiliki banyak kebebasan. Sulit untuk membuat perubahan yang diminta." 

Jadi bisakah mereka dibujuk untuk tetap di dalam? Itulah yang sedang dipelajari Asmundson untuk mencari tahu dengan mengidentifikasi faktor-faktor psikologis. Pesan itu bisa rumit, kata psikolog.  

 

 

Loading...
loading...


Penulis  : -
Editor    : anggun
Sumber : suara.com