• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Petani Ubi Casesa Bangka Merugi Hingga Rp15 Juta

Kamis, 19 Maret 2020 | 18:36 WIB
Proses produksi tapioka oleh PT Bangka Asindo Agri Kenanga. Foto : Hairul/klikbabel.com
Loading...

Klikbabel.com, Sungailiat - Panen raya bagi petani ubi cacesa tahun ini tak membuat petani tersenyum. Pasalnya, petani merugi hingga Rp15 juta lantaran harus mengantri beberapa hari di pabrik tapioka PT Bangka Asindo Agri (BAA) Kenanga, Bangka.

Kartuli, salah satu petani menyampaikan, tidak beroperasinya PT BAA membuat petani kebingungan. "Saat panen seperti ini, kami cabut ubi namun PT BAA diminta untuk menghentikan operasi," keluhnya. Kartuli menyatakan, saat ini produksi PT BAA dibatasi. Padahal kata dia, hal ini memberikan dampak besar kepada petani. Salah satunya mengantri. "Bibit dikasih, pupuk disubsidi, kok giliran panen dihambat?" tanyanya.

Klik Juga : Massa Kontra KIP Berencana Nginap di Polres Bangka

Untuk itu, petani dari Kecamatan Belinyu ini meminta pemda untuk mengambil sikap. Menyusul saat ini, pihaknya terpaksa hutang ke bank untuk memperoleh modal saat menanam ubi casesa.

Petani lain, Khaerul menjelaskan, sudah tiga hari mengantri di pabrik. Namun, belum ada kejelasan apakah bisa bongkar atau tidak. "Yang mengantri ini lebih dari 100 ton. Sementara produksi pabrik juga dibatasi. Jadi gimana? aku petani Bangka Barat ini.

Dia mengaku, pelayanan yang diberikan PT BAA berbeda dengan lainnya. Sehingga, banyak petani yang menjual hasil kebun kesini.

Menanggapi itu, Humas PT BAA Sulaiman menjelaskan, pihaknya dilematis dan serba salah dalam menghadapi keinginan petani. Saat ini kata dia, pihaknya tak mampu berbuat banyak karena sedang menjadi sorotan. “Kami ingin teman-teman tidak antri sampai malam malam. Tapi kami tidak ada kejelasan hukum, kan kami diminta setop operasi,,” kata dia.

Pria berkacamata ini juga mengatakan, jika pihaknya tetap mengambil ubi dari petani juga salah. Jika tidak diambil juga salah. "Jadi serba salah kami ini," ucapnya. Sulaiman juga menjelaskan, hasil paparan dari Universitas Pasundan Bandung selaku tim independen bahwa pabrik membutuhkan sicding bakteri.

"Untuk sicding bakteri ini kita harus produksi sekitar 80 ton per hari, karena biogasnya sudah berjalan baik. Kenapa waktu kita berhenti produksi kemarin tidak terjadi masalah karena biogasnya sedang down atau bermasalah dalam artian bakterinya belum aktif. Nah, kalau saat ini biogasnya sudah sangat aktif dan sudah sebanyak itu, jadi seharusnya untuk beri makan bakterinya semestinya harus produksi sekitar 120 sampai 150 ton per hari," terangnya. Sulaiman menjelaskan jika ini dihentikan produksinya maka akan kolep dan akan mulai dari nol kembali.

 

 

 

 

Loading...
loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com