• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Ada Makam Berusia Ratusan Tahun di Sungaiselan

Rabu, 22 Mei 2019 | 13:28 WIB
Makam Paulus Cen On Ngie yang ada di Sungaiselan. Foto : Dok Pribadi Rizky Hasanah
Loading...

Klikbabel.com, Sungaiselan - Barangkali tak banyak yang tahu, jika di Desa Sungaiselan Atas, Kecamatan Sungaiselan Kabupaten Bangka Tengah, terdapat makam yang berusia ratusan tahun. Tepatnya tahun 1871. Makam ini bisa ditemukan tak jauh dari jalan raya Desa Sungaiselan Atas menuju Desa Lampur. Berjarak sekitar 10 meter dari pinggir jalan. Sepintas, melihat desain makam yang terdapat tanda salib di atasnya dan membaca nama Paulus Cen On Ngie terukir di makam tersebut, maka tak salah jika kesan pertama yang terlintas bahwa makam ini merupakan makam pemeluk agama kristen, Kristen Katolik.

Menurut Drs.Iskandar Hasan, SH dalam bukunya yang berjudul Bangka Belitung Menuju Masa Depan, persebaran agama katolik di Pulau Bangka, khususnya di Kota Pangkalpinang mengalami perkembangan besar pada masa Residen Mann pada 24 Mei 1931. Para Pastor agama Katolik pindah dari Sambong ke Pangkalpinang untuk menempati kapel sementara (letaknya di kompleks SD Budi Mulia sekarang). Maka bolehlah saya katakan bahwa Sungaiselan telah lebih dulu mengenal agama katolik mengingat usia makam yang lebih lama, yakni tahun 1871.

Untuk mengobati rasa penasaran, maka saya didampingi Kadus I Desa Sungaiselan Atas, Roby Subrata, menemui seorang tokoh masyarakat Sungaiselan yang telah berusia lanjut bernama Haji Nazir. Haji Nazir (83) merupakan keturunan ke 8 Batin Tikal sekaligus tetua kampung yang mengetahui seluk beluk masuknya agama Katolik di Sungaiselan ini.

Menurut Haji Nazir, pada masa itu Pastur Cen On Ngie datang dari Pangkalpinang bersama rombongan sekitar sepuluh orang ke Sungaiselan. Pastur Cem On Ngie yang selanjutnya disebut oleh Haji Nazir dengan sebutan Paderi (sebutan untuk pemuka agama katolik) lahir di Tiongkok pada tahun 1795. Menurutnya, Paderi datang ke Pulau Bangka pada awalnya sebagai pekerja tambang dan sinse (tabib). Lalu, berlanjut membawa misi untuk menyebarkan agama Katolik. Paderi datang beserta rombongannya setiap hari minggu. Ketika melewati rumah-rumah penduduk, maka Paderi berhenti dari rumah ke rumah untuk mengajak ke gereja dan tak lupa membagikan coklat berbentuk kupu-kupu kepada anak-anak. "Perawakan sedang dan memiliki janggut putih yang panjang serta memakai jubah panjang," kata Haji Nazir menceritakan soal Paderi.

Paderi sambung Haji Nazir, tidak memiliki rumah di Sungaiselan, tetapi memiliki kenalan di Sungaiselan jika memang memiliki keperluan menginap. "Namun hampir tidak ada penduduk Sungaiselan yang berpindah agama ke agama katolik. Penduduk Sungaiselan yang pada masa itu memeluk agama Islam dan Konghucu, merupakan pemeluk agama yang taat," tambah Haji Nazir.

Mengapa penyebaran katolik bermula di Sungaiselan? ternyata menurut penuturan Haji Nazir, Sungaiselan pada zamannya selain memiliki pelabuhan yang cukup besar, juga merupakan salah satu tempat yang dianggap strategis. Para tahanan yang diadili di Kota Muntok akan disel atau dikurung di tahanan Sungaiselan (dekat Polsek Sungaiselan). Sebagai bukti bahwa Sungaiselan merupakan salah satu tempat penting di Pulau Bangka, Belanda sendiri pada waktu itu mempunyai markas di Sungaiselan.

Peninggalan benda sejarah seperti makam Paulus Cen On Ngie ini patut kita lestarikan. Makam ini merupakan bukti bahwa pada masanya pernah datang seorang Pastur ke sebuah desa di Kecamatan Sungaielan ini. Makam ini merupakan salah satu identitas bangsa yang harus dijaga agar generasi penerus bangsa dapat mengenal cerita dan kisah di baliknya.
 
Pengirim : Rizky Hasanah.,S.Ap

 

 

 

Loading...
loading...


Penulis  : -
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com