• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Tambang Timah Menjadi Sumber Pendapatan Utama di Beltim

Rabu, 14 Maret 2018 | 14:17 WIB
(Net)
Loading...

Klikbabel.com, Damar - Secara ekonomi, kehidupan masyarakat Belitung Timur (Beltim) masih jauh tertinggal dari saudara tuanya yakni Pulau Belitung. Sektor pariwisata yang digadang-gadang bisa menjadi sumber mata pencaharian baru di sana, belum bisa terekplorasi secara total.

Saat ini, sumber pendapatan utama masyarakat Beltim masih mengandalkan tambang timah. Terlebih saat ini harga timah di pasaran sedang bagus, yakni di kisaran Rp100 ribu per kg. 

’’Dalam sehari menambang, kami bisa mendapatkan minimal 5 Kg timah. Cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,’’ kata Daud, seorang penambang asal Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar, Belitung Timur, saat ditemui di pesisir Pantai Burung Mandi, Jumat (12/3/2018).

Daud yang juga seorang nelayan ini menuturkan, jika dibandingkan dengan hasil tangkapan ikan maupun berkebun, jelas hasil tambang timah lebih menjanjikan. Sebab, hasil tangkapan ikan sangat dipengaruhi oleh cuaca dan perkebunan yang harus menunggu masa panen untuk bisa menikmati hasilnya. 

’’Dari hasilnya juga masih belum seberapa dibanding menambang. Menangkap ikan saat cuaca bagus, bisa bagus juga (hasilnya). Ketika cuaca buruk, ya kita ga bisa berharap banyak,’’ ucapnya. 

Ketika ditanya soal potensi wisata di Pantai Burung Mandi, sesaat Daud menghela napas. Sambil menatap laut lepas, pria berkulit gelap ini pun berkata lirih. ’’Susah kalau di sini. Belum ada investor yang masuk. Lihat saja sendiri, pantai ini sepi sekali,’’ tuturnya. 

Dari pantauan, sektor pariwisata di Beltim memang belum menggeliat seperti halnya di Belitung. Baru ada empat hotel melati yang berlokasi di Desa Manggar, tak jauh dari Desa Burung Mandi. 

Sedangkan di kawasan Pantai Burung Mandi, belum ada satupun hotel yang tersedia. Sementara, cost livingnya cukup tinggi, dan jika dipaksakan bisa membuat wisatawan  ’’kapok’’ untuk singgah kembali. 

Hal ini diakui juga oleh Ending, nelayan lain yang duduk berdampingan dengan Daud. Jangankan untuk makan, harga minuman di Pantai Burung Mandi relatif lebih mahal. 

’’Bayangkan saja, satu butir kelapa muda bisa seharga Rp50.000. Sayuran per ikatnya Rp5.000. Ikan-ikan juga mahal. Jangan kaget jika makan dan minum di sini tidak cukup bermodal seratus atau dua  ratus ribu Rupiah,’’ katanya. 

Karena itu, baik Daud maupun Ending, tidak mengherankan jika masyarakat Desa Burung Mandi masih bergantung pada tambang timah. Apalagi potensi timah di kawasan ini masih cukup banyak.

Loading...
loading...


Penulis  : Yodea
Editor    :
Sumber : Klikbabel.com