• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Kekerasan dalam Pendidikan

Kamis, 12 Desember 2019 | 19:28 WIB
Sayyidil Muhsin, Mahasiswa Jurusan PGSD Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa
Loading...

Kekerasan adalah sebuah tindakan yang mengacu pada sikap atau perilaku yang tidak manusiawi, sehingga dapat menyakiti orang lain yang menjadi korban kekerasan tersebut dan juga tentu merugikan banyak orang. Kekerasan juga dapat membuat rugi pelaku karena pasti mendapatkan hukuman sesuai hukum yang berlaku.

Selain itu juga, kekerasan dapat mengakibatkan kematian, karena orang yang mengalami kekerasan tentu akan menjadikan baik tubuh maupun jiwanya terguncang.

Kekerasan juga dapat diartikan sebagai tindakan agresi atau pelanggaran yang yang bentuknya bermacam-macam sepeti penyiksaan, pemukulan, pemerkosaan, terorisme, dan sesuatu tindakan yang menyakiti fisik seseorang maupun psikologi kekerasan memiliki dua jenis, diantaranya; (missa, 2018)

? Kekerasan fisik yaitu mengacu pada kekerasan yang menyebabkan tubuh sejenisnya mengalami luka-luka atau sejenis melukai anggota tubuh manusia yang secara sengaja


? Kekerasan mental yaitu tindakan yang dilakukan dengan menekan jiwa seseorang yang dilakukan secara tidak langsung (.sridiantiwww.com, 2018)


Dalam kamus sosiologi dituliskan bahwa kekerasan merupakan suatu ekspresi yang dilakukan individu maupun kelompok dimana secara fisik maupun verbal mencerminkan tindakan agresi dan penyerangan peda kebebasan atau martabat.


B.Kekerasan menurut para ahli sosiologi

a. Thomas Hobbes.
Menyatakan pendapatnya bahwa kekerasan merupakan suatu yang alamiah dalam manusia.

b. J.J Rousseau menyatakan pendapatnya bahwa kekerasan yang dilakukan bukan sifat murni manusia

c. Soerjono Soekanto mengemukakan pendapatnya bahwa kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik secara paksa terhadap orang lain maupun kepada benda
Dapat disimpulkan bahwa dari beberapa pengertian menurut para ahli pada intinya kekerasan adalah suatu tindakkan yang mengacu pada perbuatan untuk menyakiti,memaksa,yang alamiah akan selalu dialami oleh manusia.

C.Faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam pendidikan


Kekerasan dalam dunia pendidikan dewasa ini  kerap terjadi diakibatkan kurangnya pengetahuan dan motivasi ataupun masukan dan arahan yang baik dari keluarga ataupun sekolah. Kekerasan juga bisa disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan yang kurang baik dari lingkungan sekitar. Berikut faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan :

a. Faktor keluarga.
Pendidikan keluarga dipandang sebagai pertama dan utama. Dikatakan pendidikan pertama karena bayi atau anak itu petama kali berkenalan dengan lingkungan serta pembinaan pada keluarga dan pembentukan fondasi pengembangan karakter. Anak yang masih kecil itu daya tangkapnya amatlah cepat. Dikatakan pendidikan gagal dalam keluarga jika sikap anak pada lingkungannya bisa jadi meniru sikap orang tuanya yang kurang sopan dan santun terhadap lingkungannya.

Misalkan orang tua minum berdiri, sering mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan dalam bertutur kata depan anak, maka anak dengan cepat menangkap kata tersebut dan langsung memperakteknya dengan teman sekitarnya. Hal tersebut sangatlah kurang mencerminkan sikap yang baik dalam mendidik anak (hindayani, 2018)

b. Faktor lingkungan sekolah
Pendidikan kedua setelah keluarga adalah anak akan  mendapatkan didikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu sekloah. Anak akan disekolahkan guna mengasah, mencerdaskan, dan membentuk karakter anak yang berbudi pekerti yang sopan santun.

Jika anak dalam masa pendidikan sekolahnya banyak mengalami kegaduhan karena tidak dalam belajar maka dia akan mengalami gangguan mental sehingga tidak masuk sekolah  dan melenceng dalam pergaulan yang kurang baik sehingga menimbulkan rasa dendam pada anak anak tersebut. Dendam tersebutlah yang akan menjadikan karakter anak yang keras sehingga timbulah rasa ingin melukai.

D.Ajaran yang baik dalam mendidik anak

Dunia pendidikan dewasa ini tengah menjadi sorotan oleh berbagai kalangan, sebab dunia pendidikan yang fungsi utamanya adalah membentuk pribadi yang cerdas dan berakhlak mulia dianggap kurang serius dalam mendidik karakter para generasi muda.

Kondisi tersebut terjadi karena sistem pendidikan nasional telah meninggalkan konsepsi sistem among dari Ki Hadjar Dewantara dan lebih mengutamakan konsep pendidikan dari negara barat yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.

Sementara bangsa Indonesia sebenarnya memiliki tokoh pendidikan yang luar biasa dengan konsep dan pemikirannya, yakni Ki Hadjar Dewantara. Banyak konsep dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara terutama dalam bidang pendidikan dan kebudayaan salah satunya adalah metode Among, metode Among yaitu metode pengajaran yang berjiwa kekeluargaan yang berdasarkan pada kodrat alam dan kemerdekaan, dilaksanakan dengan semboyan Tutwuri Handayani (mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh) dan dilaksanakan dalam Tri Sentra Pendidikan yaitu alam keluarga, sekolah dan masyarakat.

Adapun implementasi metode sistem among Ki Hadjar Dewantara untuk menanamkan pendidikan karakter di sekolah dasar menggunakan: Pembiasaan, pemberian contoh dan keteladanan dan integrasi dalam pembelajaran. Dengan sistem ini, maka pelajaran mendidik anak-anak akan menjadi manusia yang merdeka hatinya, merdeka fikirannya, dan merdeka tenaganya.

Guru jangan hanya memberikan pengetahuan yang perlu dan baik saja, akan tetapi juga harus mendidik si murid mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum. Pengetahuan yang baik dan perlu yaitu yang bermanfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama (social belong) (Tamansiswa, 2017: 67).
 
Ki Hadjar Dewantara dengan sisitem amongnya ingin membuat sebuah sistem alternatif atas sistem sekolah yang otoriter dan menindas, menjauhkan pembelajaran dari sistem perintah dan hukuman untuk mencapai ketertiban.

Menurut Ki Hadjar Dewantara proses belajar yang seperti ini bertentangan dengan kodrat alam, bertentangan dengan kemerdekaan setiap siswa. Oleh karena itu Ki Hadjar Dewantara memilih metode tertib dan damai. Pada metode ini murid diberi kebebasan untuk mengembangkan kreativitasnya sehingga terlihat potensi dan bakatnya.

Dengan sistem ini dapat menumbuh kembangkan rasa percaya diri, kemandirian dan aktivitas siswa, hal ini dikarenakan dalam pembelajaran siswa tidak hanya sekedar melihat (Niteni) apa yang dilakukan oleh guru, tetapi juga memahami, mencontoh (nirokke) untuk mendapatkan pengetahuan yang baik sehingga untuk selanjutnya siswa bisa mengembangkan (nambahi). 

Berdasarkan beberapa kajian di atas terlihat bahwa ditemukan banyak keunggulan dari sistem among, namun sayang belum banyak kajian mendalam terkait hal tersebut. Oleh karena itu penulis berupaya membahas lebih mendalam, agar sistem among tersebut tidak dilupakan oleh generasi yang akan datang, dan juga bisa diterapkan dalam lingkup yang lebih luas, tidak hanya terbatas di sekolah-sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara saja akan tetapi bisa diterapkan dalam lingkup yang lebih luas.

Loading...


Penulis  : -
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com