• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Lada Bangka Akan Keluar dalam Bentuk Bubuk

Selasa, 03 September 2019 | 09:01 WIB
Ilustrasi. Foto : net
Loading...

Klikbabel.com, Sungailiat - Pemerintah Kabupaten Bangka akan menjual lada dalam bentuk bubuk. Hal ini sebagai salah satu bentuk upaya meningkatkan harga lada yang saat ini hanya dihargai Rp50 ribu per kilogram.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bangka Parulian,S.Ip mengakui, dirinya sudah mendapat informasi dari Bupati Bangka Mulkan,MH bahwa, Pemkab Bangka sudah melakukan kerjasama dengan salah satu pabrik makanan untuk hal tersebut.

"Ya akan dibuat bentuk bubuk lada kita. Jadi tidak lagi lada utuh tapi sudah diolah," kata Parulian, Selasa (3/9).

Ucok-biasa disapa menambahkan, sebagai tahap awal Pemkab Bangka kata dia akan membangun pabrik. Sehingga bisa menampung lada petani. "Bangun pabrik pengolahan dulu," tambahnya.

Ucok mengatakan, hal ini akan efektif menjaga lada ditingkat petani. Apalagi saat ini, harga lada terus merosot tajam. "Termasuk saya punya lada walau tidak banyak. Sedikit. Tapi harganya memang merosot," ucapnya.

Ucok memuji apa yang dilakukan Pemkab Bangka. Menurut dia, petani akan untung. Selain itu, dengan adanya pabrik baru maka akan membuka lapangan pekerjaan yang baru. "Petani akan untung pastinya," jelasnya.

Bupati Bangka Mulkan mengakui, telah melakukan kerjasama dengan salah satu perusahaan untuk menjual bubuk lada yang berasal dari Kabupaten Bangka.

Mulkan mengaku, ini bertujuan menjual lada yang telah digiling agar bisa menaikkan harga lada, yang saat ini terus merosot harganya.

Terancam Gulung Tikar

Selain harga jual yang semakin anjlok, petani lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) kini turut diresahkan dengan musim kemarau panjang yang melanda saat ini. Padahal, tanaman lada membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhan dan pembesaran buah.

Matoridi, salah satu petani lada di Desa Keposang, Kecamatan Toboli mengeluhkan harga lada yang tak sesuai dengan biaya modal yang dikeluarkan. Dari harga jual lada pada tahun 2018 bisa mencapai Rp 120 ribu/Kg, sekarang menurun signifikan diangka Rp 45 ribu-Rp 50 ribu/Kg.

"Harganya semakin menurun tahun ini berkisar diangka 45-50 ribu per kilo. Tidak balik modal kalau dihitung. Ditambah lagi, cuaca dalam hal ini musim kemarau yang berkepanjangan membuat tanaman tidak mendapat air yang cukup. Karena hujan tak kunjung turun sejak tiga bulan terakhir," ujarnya.

Petani yang mempunyai 3.000 batang tanaman lada di daerah ini menilai, harga jual yang anjlok ditambah cuaca yang tak bersahabt menimbulkan dampak ekonomi yang besar bagi para petani lada. Selain tak balik modal dengan harga jual yang anjlok, kualitas dan kuantitas buah lada menjadi tidak optimal.

"Dampak musim kemarau ini, kualitas dan kuantitas ladanya menjadi tidak optimal. Normalnya sekali petik bisa mendapat rata-rata 10 kilogram per karung, namun pada musim kemarau ini, kita hanya bisa mendapat 6 kilogram per karung, jauh dari harapan kita," tutur dia.

Dari hasil produksi penjualan, dirinya hanya mendapat keuntungan 30 persen saja. Sedangkan 70 persen nya habis untuk biaya operasional seperti penggunaan pupuk dan upah petik lada, kebersihan kebun dan lainnya. Tentu, ini menjadi ancaman dan petani lada bisa gulung tikar.





 

Loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com