• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Kepercayaan Masyarakat Tionghoa, Malam Ini Pintu Akhirat Terbuka

Kamis, 15 Agustus 2019 | 22:58 WIB
Masyarakat mulai memadatai Kelenteng Bakti Parit 4 Kuday Bangka. Foto : Hairul/klikbabel.com
Loading...

Kepercayaan Masyarakat Tionghoa, Malam Ini Pintu Akhirat Terbuka

Klikbabel.com, Sungailiat - Masyarakat Tionghoa menggelar Sembahyang Rebut, Kamis (15/8) malam di sejumlah kelenteng. Salah satunya Kelenteng Bakti, Parit 4, Kelurahan Kuday, Bangka. Tampak, sejak pukul 19.00 WIB, masyarakat mulai memadati halaman kelenteng. Akses jalan yang menghubungkan Tutut dan Sungailiat juga terpaksa dialihkan.  

Klik Juga : BPS : China Pemasok Barang Impor Terbanyak

Sembahyang Rebut digelar setiap tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek. Dikenal dengan Chit Ngiat Pan (sembahyang pertengahan bulan ke tujuh Imlek ) atau Sembahyang Rebut. Pada saat tersebut, pintu akhirat terbuka. Saat itulah, seluruh arwah akan turun ke bumi sejak permulaan bulan ke tujuh. "Diantara arwah tersebut, ada yang bergentayangan dalam keadaan terlantar. Sehingga mereka sangat membutuhkan persembahan makanan. Arwah yang terlantar ini karena tidak memiliki keturunan, meninggal tidak wajar dan lain-lain," jelas Yanto, salah satu warga di lokasi kelenteng.

Masyarakat Tionghoa menurut dia, mempercayai semakin besar Patung Thai Tse Ja atau Raja Akhirat menjadi perlambang kemakmuran lingkungan setempat. Dipercayai selama kurun waktu setengah bulan kata Yanto, pintu akhirat terbuka. Sehingga arwah berkeliaran di alam manusia. "Mereka kembali ke akhirat pada malam tanggal 15 penanggalan Imlek," sambungnya. Nah, Patung Thai Se Ja inilah menurut Yanto, yang mencatat arwah gentayangan di bumi. Dimana, disimbolkan tangan kiri memegang buku dan tangan kanan memegang pena.

Selain itu, di Patung Thai Se Ja juga kata Yanto, terdapat payung yang nanti akan dilakukan lelang. Payung tersebut biasanya kata dia harganya fantastis. Bisa belasan juta. "Dipercayai dapat membawa kemakmuran dan perlindungan. Nanti dilelang dan hasilnya masuk kas," ujarnya. 

Puncak Sembahyang Rebut menurut Yanto, dibukanya kain atau kertas merah penutup mata patung. Ada persembahan yang diperebutkan oleh masyarakat. Mulai dari beras, sayur-sayuran dan lainnya. "Ritual rebut diadakan pada tengah malam, jam 00.00 WIB. Setelah aba-aba diberikan, maka masyarakat dapat berebut. Hal inilah yang membuat sembahyang ini dikenal dengan Sembahyang Rebut," tutupnya.

Sementara, Bupati Bangka Mulkan berharap, kegiatan Sembahyang Rebut sebagai sarana menjaga keharmonisan antar etnis di Kabupaten Bangka. “Melalui acara Sembahyang Rebut ini semoga dapat mempererat keberagaman etnis yang ada di Kabupaten Bangka,” kata dia. Pembinaan sebagai upaya menjaga eksistensi kebudayaan tetap lestari kata Mulkan, sangat diperlukan. Salah satu contohnya, ada pembinaan dengan pemberian fasilitas penunjang kegiatan dan pemberian edukasi terhadap kesadaran masyarakat. “Pembinaan ini tidak lepas dari pembinaan, untuk itu kita akan melakukan pembinaan rutin nantinya terhadap pelaku kebudayaan di Kabupatan Bangka,” imbuhnya.

Ditambahkan bupati, pentingnya menjaga eksistensi kebudayaan dearah agar generasi muda mengetahui sehingga dapat terlibat langsung di dalamnya. “Salah satu upaya kita mencegah kepunahan yakni mengenalkannya kepada generasi penerus kita, kalau bisa mereka harus dilibatkan,” tuturnya.

 

 

Loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com