• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Mengembalikan Kejayaan Lada, Antara Mimpi Atau Realita?

Selasa, 21 Mei 2019 | 19:27 WIB
Petani Babel melakukan proses penjemuran lada. Foto : Hairul/klikbabel.com
Loading...

INDONESIA negeri kaya. Salah satunya, kaya akan rempah. Ada sekitar 2.000 jenis rempah di negeri ini. Inilah, yang menjadi faktor pemicu orang Portugis untuk datang. Mereka ingin mencari rempah. Kala itu, harganya setara dengan emas. Sejarah mencatat, ekspedisi Eropa pertama mendarat di Ternate adalah bangsa Portugis pada tahun 1512. 

Begitulah, rempah Indonesia sudah dikenal sejak lama. Hingga kini, keberadaan rempah ada dan terus ada. Bahkan, komoditas rempah menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) melebihi minyak dan gas (migas). Hal ini terjadi pada tahun 2016. Komoditas rempah menyumbang 429 triliun terhadap PDB nasional. Sementara migas hanya Rp 365 triliun. Maka tak heran, surganya rempah disematkan untuk Indonesia.

Salah satu rempah yang dikenal lama adalah lada. Lada merupakan salah satu komoditas yang mewarnai perjalanan panjang sejarah Indonesia. Dua wilayah pemasok lada terbesar ada di Indonesia. Yakni, Provinsi Lampung dan Kepulauan Bangka Belitung dengan kontribusinya terhadap produksi nasional sebesar 58,32 persen. Meski ada perbedaan dari lada yang dihasilkan. Namun, lada dari kedua daerah ini sama-sama mendunia.

Provinsi Lampung, menghasilkan lada hitam yang dikenal dengan sebutan Lampung Black Pepper. Sementara Provinsi Bangka Belitung, menghasilkan lada putih atau dikenal Muntok White Pepper. Dari kedua jenis lada tersebut, lada putih punya nilai ekonomi lebih tinggi. Nilainya bisa dua kali lipat daripada harga lada hitam. Sayangnya, baik Lampung Black Pepper maupun Muntok White Pepper, kini namanya tak lagi harum. Gubernur Babel Erzaldi Rosman tak menapik, keberadaan lada Babel semakin tenggelam. Bahkan, sejumlah negara konsumen lada seperti Eropa dan Rusia tak mengetahui akan lada Babel. Penyebabnya, konsumen telah beralih menggunakan lada dari negara lain seperti Vietnam. Harganya, jauh lebih murah.

Gubernur mengindikasi, lada Babel yang terkenal dengan kepedasan dan aromanya telah dicampur dengan lada dari negara lain, yang selanjutnya diekspor ke Eropa dan Rusia oleh negara yang mencampur itu. Erzaldi menjelaskan, dulu negara Vietnam belajar tentang bertanam lada ke Indonesia khususnya Babel. Dan kini Vietnam telah sukses sebagai negara pengekspor lada terbesar. Sementara, jika kita ingin belajar lada ke Vietnam, mereka tertutup. Kita harus menunggu tiga bulan untuk mendapatkan izin untuk belajar ke kebun mereka.

Data International Pepper Community (IPC) menunjukkan, Indonesia disalip Vietnam sebagai eksportir utama lada dunia pada paruh 2006-2010. Sementara Indonesia, menguasai ekspor lada dunia hanya selama separuh dekade pertama yakni 2001-2005. Menurunnya ekspor lada putih Indonesia ini disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti menurunnya produksi dari Babel lantaran beralihnya petani lada ke sawit hingga menjadi penambang timah inkonvensional. Tentu, hal seperti ini harus diperbaiki. Apalagi, jika kita sepakat untuk mengembalikan kejayaan lada dan rempah Indonesia.

Revitalisasi Mutlak Diperlukan

Posisi Indonesia yang terus digeser oleh Vietnam dan India sebagai eksportir lada tak boleh terus diabaikan. Untuk menyikapi hal tersebut, perlu dilakukan terobosan dan langkah nyata dalam mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai produsen dan eksportir lada terbesar dunia. Bagaimana caranya? Untuk menjawab itu, mari kita gunakan rumus ABG. Yakni ;

1. Akademisi

Peran serta akademisi didalam pengembalian kejayaan lada sangat diperlukan. Misalkan, memberikan pengetahuan terhadap petani dalam proses cara memilih bibit yang ungggul, menanam, merawat hingga proses penjemuran. Hal ini menjadi satu rentetan guna menghasilkan lada terbaik. Pelatihan bagi petani oleh para akademisi tentu tidak bisa sendiri. Diperlukan peran serta pemerintah dan juga swasta.

Para petani lada dan lainnya diperlukan ikut meng-upgrade diri dengan perkembangan yang ada. Hal ini perlu dilakukan. Apalagi saat ini, negara penghasil lada seperti Vietnam memanfaatkan kemajuan teknologi dalam prosesnya. Jangan ada istilah kami lah terti, jadi dak usah diajar (kami sudah bisa, jadi jangan diajari-red,).

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Babel Juraidi mengakui, petani di Babel umumnya masih menggunakan cara tradisional dan manual dalam mengembangkan usaha perkebunannya. Sehingga, banyak lada yang terkontaminasi dengan bakteri salmonella dan e-coli. Ini, bakal berpengaruh kepada harga jual. Nah, untuk mendapatkan lada yang tidak terkontaminasi tentu diperlukan pelatihan dan pengetahuan bagi para petani. Baik saat perendaman hingga penjemuran. 

Contoh lain adalah masih banyak petani di Babel memanfaatan tajar (junjung) mati bagi lada. Padahal, memakai tajar hidup memiliki keuntungan. Antara lain mudah didapat, ditumbuhkan dan harganya murah. Selain itu biomasa hasil pangkasan, dan daun-daun yang berguguran dapat digunakan untuk pakan ternak, mulsa dan pupuk/kompos. Tajar hidup juga bisa digunakan sebagai peneduh sekaligus bahan pupuk hijau perakaran. Gliriside berada di bawah, sedangkan perakaran lada berada di atas, sehingga jika tanaman gliriside yang difungsikan untuk tajar hidup, tidak saling menggangu kebutuhan pemenuhan unsur hara. 

Daun gliriside yang jatuh ke tanah bisa menjadi pupuk hayati yang bagus bagi tanaman lada. Sebagai pupuk hayati, daun gliriside mempunyai kandungan auxin (hormon tumbuh) yang tinggi, dan tajar hidup sebagai penyangga tanaman lada. Sehingga bisa menjamin lada dari hempasan angin dan melindungi dari terik matahari yang terlalu berlebihan.

Di Babel, dari data BPTP Balitbangtan Kepulauan Bangka Belitung, beberapa lokasi tanaman lada yang sudah menggunakan tajar hidup adalah Kebun Percobaan (KP) Petaling. Juga, petani Desa Puput, Kecamatan Simpang Katis, Bangka Tengah yang menggunakan Kapuk Randu sebagai tiang panjat hidup untuk tanaman lada. Penggunaan Kapuk Randu dapat membantu pertumbuhan tanaman lada hingga ketinggian lebih dari lima meter. Selain itu, tiang panjat ini memiliki umur panen lada yang panjang hingga lima belas tahun jika dibandingkan dengan menggunakan tajar mati yang hanya bertahan tiga hingga lima tahun saja. Pengetahuan-pengetahuan seperti ini tentu saja perlu ditularkan dan diperkenalkan kepada para petani oleh para akademisi.

2. Bisnisman

Besarnya modal dan lamanya hasil yang diperoleh menjadi momok tersendiri bagi petani lada. Ditambah, harga lada kini tak juga beranjak naik. Saat ini, harga lada di tingkat petani hanya Rp65 ribu per kilogram. Padahal, untuk panen perdana paling lama dibutuhkan waktu 3 tahun. Setelah itu lada dapat dipanen kembali sampai 5 tahun ke depan. Disinilah, peran serta bisnisman atau pengusaha guna membantu para petani. Terutama dalam bantuan permodalan. Para pengusaha dapat memberikan bantuan permodalan kepada para petani. Tentu dengan bunga yang ringan.

Selain itu, para pengusaha dapat memberdayakan petani lada dengan membuat produk lada. Yakni, dengan mengemas lada sehingga tampak berkelas dan higienis. Dengan demikian, otomotis membuat harga lada akan naik. Harga lada yang belum dikemas saat ini, adalah Rp65 ribu per kilogram. Namun, jika sudah dibuat dalam bentuk kemasan harganya bisa Rp150.000 per kilogram.  

3. Government

Rumus ketiga dalam pengembalian kejayaan lada ialah government atau pemerintah. Baik pemerintah daerah maupun pusat. Yakni, dengan penyediaan bibit unggul dan murah kepada para petani. Harga bibit lada sekarang di tingkat petani mencapai Rp12 ribu per batang. Mahalnya harga bibit lada ini mendorong banyak petani menggunakan bibit bermutu rendah. Akibatnya, dengan bibit bermutu rendah, pertumbuhan tanaman akan terhambat, rentan terhadap serangan hama penyakit dan penurunan produksi. Selektif terhadap bibit yang digunakan sangat penting karena lada termasuk tanaman tahunan yang baru berproduksi mulai akhir tahun kedua atau ketiga dan membutuhkan biaya produksi lebih besar. Dengan demikian, hal ini harus diperbaiki.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui jika penyediaan bibit unggul adalah yang harus pertama dilakukan. Di Babel, ada tujuh varietas lada lokal yang potensial dan berkualitas nasional. Namun dari ketujuh varietas tersebut, lada Petaling 1 masih paling banyak diminati dibandingkan varietas lada lainnya. Adapun Varietas lada yang sudah diakui Kementerian Pertanian yakni Petaling 1, Petaling 2, Lampung Daun Kecil (LDK), Chunuk, Natar 1, Natar 2 dan Bengkayang.

Kementerian Pertanian sendiri dalam dua tahun terakhir telah mengalokasikan bibit lada unggul senilai Rp 5,5 triliun ke provinsi yang menjadi sentra produksi lada di Indonesia. Yakni Bangka Belitung, Luwu Raya, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung. Bagaimana hasilnya? menurut Mentan saat pelepasan ekspor lada putih di perkebunan lada putih Desa Air Seruk, Belitung, Sabtu (4/5) lalu, bibit unggul produktivitasnya mencapai 2,5 ton per hektare per tahun, bahkan bisa mencapai tiga ton per hektare per tahun. "Kita sudah buktikan empat tahun terakhir, dulu ekspor kita 33 juta ton, tetapi pada 2018 meningkat menjadi 42 juta ton. Artinya naik hampir 10 juta ton," ujar Mentan dikutip dari replubika.co.id.

Untuk itu, bantuan bibit unggul harus terus ditingkatkan dan digalakkan. Sebab, akan mempengaruhi jumlah produktivitas yang dihasilkan. Selain itu, pemerintah perlu bersama membangkitkan semangat petani dalam menanam kembali lada sebagai salah satu 'budaya' dari masyarakat Babel khususnya. Sebab, dari tahun ke tahun lahan perkebunan lada terus menurun. Penurunan ini terus terjadi hingga tersisa 163 hektar. Hal ini berlawanan dengan Vietnam. Luas lahan perkebunan lada di Vietnam terus meningkat. Menurut Blooomberg, tahun ini diprediksi area perkebunan lada di Vietnam akan mencapai 100 ribu hektar. Adanya perluasan lahan perkebunan lada ini tentu secara langsung meningkatkan produksi lada di Vietnam. Dari 125 ribu ton lada pada 2011, dan diprediksi lada Vietnam akan meningkat hingga 150 ribu ton. Untuk itu, penanaman lada perlu digiatkan kembali.

Memang, di Provinsi Bangka Belitung banyak petani yang beralih ke penambang timah. Hal ini semata-mata lantaran mudahnya memperoleh hasil dari menambang. Dalam sehari, para penambang bisa memperoleh 5 kilogram timah bahkan lebih. Jika harga satu kilogram timah Rp 100 ribu. Maka, setidaknya para penambang sudah memperoleh uang Rp500 ribu dalam satu hari.

Sementara jika berkebun lada justru berbanding terbalik. Bahkan, membutuhkan waktu minimal 3 tahun untuk bisa panen. Belum lagi harga lada yang terus merosot dari waktu ke waktu. Untuk itu, pemerintah diperlukan untuk bisa kembali membangkitkan semangat masyarakat untuk kembali membudayakan menanam lada. Sebab, ini adalah warisan nenek moyang yang secara perlahan mulai ditinggalkan banyak pihak, terutama generasi milenial.(**)

 

 

 

Loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com