• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Pondasi Bangsa Biarlah Tetap Pancasila

Salah satu bentuk kebhinekaan yang ada di Indonesia. Foto : Dok Pribadi Penulis
Loading...

SAYA beruntung. Lahir. Tumbuh. Besar. Dan matipun mudah-mudahan di negeri ini, Indonesia. Negeri kaya raya, dengan ragam adat istiadat dan budaya. Negeri kaya raya dengan ragam sumber daya alamnya. Karena keberagaman itu pula, dunia iri dengan Indonesia. Julukan Heaven Earth disematkan, lantaran dengan kekayaan alam Indonesia yang subur dengan hasil bumi yang melimpah dan pemandangan yang memanjakan mata.

Bukan hanya kekayaan alam dan ragam budaya, Indonesia bak bangunan juga sudah didesain sedemikian rupa. Tujuannya, agar tetap berdiri tegak. Kokoh. Dimata dunia. Dimata siapapun.

Jauh sebelum saya lahir, para pendiri bangsa ini juga sudah lebih dulu membangun pondasi yang luar biasa. Ibarat sebuah bangunan. Pondasi adalah hal yang sangat penting. Vital. Karena dengan pondasi yang kuat. Mengakar. Maka bangunan itu akan menjulang tinggi.

Begitu pula bangsa ini. Pondasi utama sudah dibangun, jauh sebelum kami, generasi milenial ada. Apa yang pendiri bangsa rumuskan sebagai fondasi bangsa? Itu adalah Pancasila.

Pancasila merupakan jiwa seluruh bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Berbagai suku yang berada dalam satu ideologi untuk satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai suatu ideologi bangsa dan negara Indonesia, maka Pancasila pada hakikatnya bukan hanya merupakan suatu hasil perenungan atau pemikiran seseorang atau sekelompok orang sebagaimana ideologi-ideologi lain di dunia. Namun Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai-nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia, sebelum membentuk negara. Sehingga, bangsa ini merupakan kausa materialis (asal bahan) Pancasila (Kaelan, 2008).

Lantas, memasuki usia ke 74 tahun, apakah Pancasila tidak lagi relevan sehingga harus dibentuk NKRI bersyariah seperti yang disampaikan Habib Rizieq? NKRI bersyariah memang terus digaungkan oleh Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu. Tahun 2018, ketika menyatakan dukungan Calon Presiden Prabowo, sekali lagi Habib Rizieq menyatakan perlunya NKRI Bersyariah. Sebelumnya, ketika memulai aksi 212 tahun 2016, isu NKRI Bersyariah juga sudah digaungkan. Setahun kemudian, dalam Reuni 212 tahun 2017, perlunya Indonesia menjadi NKRI Bersyariah kembali diperkuat.

Bagaimana sikap kita atas seruan NKRI Bersyariah itu? Saya pribadi sepakat, apa yang disampaikan Denny JA. Konsultan politik. Tokoh media sosial itu. Habib Rizeq setidaknya perlu mendetailkan proposalnya dalam dua tahap lagi.

Tahap pertama, Ia perlu menjabarkan apa yang dimaksud dengan NKRI Bersyariah. Sangat perlu ia turunkan dan ia terjemahkan nilai bersyariah itu dalam index yang terukur.

Dari beberapa referensi yang penulis baca. NKRI bersyariah yang diinginkan Habieb Rizieq adalah NKRI yang beragama. Bukan ateis. Bukan pula komunis yang tanpa agama. NKRI bersyariah adalah NKRI yang menjamin semua umat beragama untuk menjalankan ibadah dan syariat agamanya masing-masing.

NKRI bersyariah ialah melindungi semua agama dari penistaan dan penodaan, serta pelecehan. Dalam beberapa poin, NKRI bersyariah juga sesuai hukum Islam untuk melindungi kepentingan umat Islam. Ini nampak misalnya pada NKRI yang memiliki pejabat yang Islami, melindungi mayoritas muslim, melindungi ulama dan santri dari kriminalisasi, dan melindungi umat dari makanan, minuman, dan obat-obatan haram. Anti narkoba, minuman keras, prostitusi, dan kaum LGBT.

Pertanyaanya, apakah selama ini Pancasila tidak merangkul itu semua? jika kita kembalikan kepada masa perumusan Pancasila, barangkali Habieb Rizieq lupa, jika mereka, para perumus Pancasila adalah orang-orang hebat. Baik secara nasionalisme maupun keislaman. Sebut saja, Mohammad Hatta. Pengetahuan keislaman dan integritas pribadinya sangat dipuji. Ada juga Abdul Wachid Hasyim. Hafis Quran. Seorang kiyai. Yang ayahnya adalah pendiri Nahdatul Ulama. K.H. Hasyim Asy`ari.

Maka tak heran, penerapan dari indikator yang disampaikan Habieb Rizieq secara prinsip sebenarnya sudah diterapkan di Pancasila. Juga, Undang-undang Dasar 1945. Penerapan ini, jauh sebelum Habieb Rizieq melontarkan mengenai NKRI Bersyariah.

NKRI yang beragama, tidak ateis dan komunis misalnya. Pancasila mengakomodir itu di sila pertama. Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini pula yang menjamin semua umat beragama untuk menjalankan ibadah dan syariat agamanya masing-masing. Pancasila juga bahkan kata Denny JA potensial lebih ekstra memberi perhatian lebih terhadap agama. Kita mengembangkan kementerian agama secara khusus. Negara demokrasi yang lain tidak memilikinya.

Selain itu, pada pasal 28E ayat 1 UUD 1945 disebutkan juga bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Hal yang sama disebutkan juga pada Pasal 29 ayat 2 UUD 1945 bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama.

Tak hanya sampai disitu, ada juga jaminan negara mengenai kehalalan produk. Ini sesuai dengan UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Ekonomi yang sesuai syariah juga telah diatur di dalam UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dan lainnya.

Lantas apalagi yang dipersoalkan? saat ini lebih bijak adalah bagimana mempraktekkan dan mengawal daripada penerapan itu semua. Penerapan daripada pemerintahan yang bersih, ketimpangan ekonomi kecil, tinggi penghormatan pada hak asasi dan lainnya. Sehingga ketika riset indeks Islamicity dihasilkan, negara-negara muslim termasuk Indonesia berada di top 10. Tidak lagi berada di urutan ke 74. Seperti sekarang.  

Soal pondasi, biarlah tetap Pancasila. Bukan NKRI bersyariah. Sekali lagi, bukan NKRI Bersyariah. Ini sudah selesai. Toh pilihan para founding fathers untuk tidak membentuk negara agama berlandaskan Islam dapat dipahami sebagai usaha menjaga kemajemukan. Meski negara ini memang mayoritas muslim. Sekali Pancasila tetaplah Pancasila karena fondasi itu sudah memadai mengantar Indonesia menggapai ruang publik yang manusiawi.(**)

*Tulisan Ini diikusertakan dalam lomba penulisan kebangsaan oleh PWI Pusat dan Inspirasi.co

 

Loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com