• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Dekat dengan Triyono, Pencetus Ojek Online Difabel Pertama di Dunia

Rabu, 09 Januari 2019 | 14:09 WIB
Triyono, pencetus ojek difabel pertama di dunia. (Foto : suara.com)
Loading...

Klikbabel.com,Yogyakarta - Tak pernah terbesit bagi Triyono mendirikan perusahaan ojek online khusus difabel pertama di dunia. Ide untuk mendirikan perusahaan ojek online khusus difabel pertama di dunia itu berawal dari obrolan di sebuah Masjid di Sleman, Yogyakarta.

Difa City Tour didirikan oleh Triyono pada 1 Desember 2015. Pemuda asal kelurahan Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo itu dengan berani meninggalkan semua bisnis peternakan yang sudah ia besarkan sejak masih duduk di bangku kuliah untuk memberdayakan kaum difabel yang selama ini sulit untuk beraktivitas sehari-hari.

Triyono yang terlahir bisa berjalan pada 21 Juni 1981. Tapi harus menerima kenyataan bahwa ia harus menjadi seorang difabel sejak umur dua tahun. Triyono divonis mengidap penyakit polio yang memaksa kakinya lumpuh total karena struktur tulang kakinya mengalami pembengkokan.

Sejak saat itu, ia mengalami perubahan hidup mulai dari penolakan di sekolah dasar hingga dibully oleh teman-temannya di sekolah. Beruntung bagi Triyono ia lahir dan besar di keluarga dan lingkungan rumah yang bisa menerima dan terus mendukung dirinya untuk berkembang seperti orang pada umumnya.

Ojek Difabel Difa Ojek

Suara.com (Jaringan klikbabel.com) menemui langsung Triyono di kantor Difa Bike di Jalan Bugisan, Wirobrajan, Patangpuluhan, Yogyakarta untuk berbagi cerita tentang perjuangannya dalam mensyukuri kehidupan, melawan tindakan bullying, berbisnis hingga berguna untuk orang sekitar dengan membuat membuka lapangan pekerjaan bagi kaum difabel agar tetap mandiri dalam berkarya.

Berikut petikan wawancara lengkapnya:

Apa yang ada alami sehingga bisa mengalami kelumpuhan di kaki?

Saya dulu awalnya terlahir normal, masuk usia 2 tahun saya mengalami panas yang sangat tinggi. Saya nyaris meninggal waktu itu, sudah 39 derajat waktu itu. Lalu dibawa ke rumah sakit. Ternyata setelah panasnya turun malah beberapa organ gerak saya mati. Jadi saya hanya bisa gerak sedikit. Kemudian terapi, sudah mulai gerak tangan dan menoleh. Tapi setelah dicek lagi, ternyata ada kerusakan permanen karena serangan virus polio.

Mungkin waktu itu imunitas saya menurun karena step tadi, virus polio kan dari lingkungan sekitar bisa menyerang siapa pun, pas fisik saya sedang collaps. Masuk usia 5 tahun baru keliatan badan saya tumbuh tapi kaki saya masih kecil.

Tapi sebenarnya dari segi kasih sayang keluarga saya nggak ada perbedaan dengan anggota keluarga yang lain, saya bersyukur karena tidak semua difabel mendapatkan apa yang saya rasakan.

Ditolak masuk SD 2 Kali....

Saat memasuki masa sekolah saya mengalami banyak hambatan, 2 kali ditolak masuk SD (Sekolah Dasar) negeri dekat rumah. Akhirnya saya ke SLB (Sekolah Luar Biasa) pada 1988. Setelah masuk SLB, saya tetap berniat masuk ke SD karena saya melihat kompetensi di SLB kan kurang. Akhirnya saya ingin ke SD yang kompetensinya ada dan teman-teman saya satu kampung kan di situ, sedangkan SLB itu beda wilayah sangat jauh dan saya tidak merasa menikmati dunia anak-anak saya.

Demi bisa masuk ke SD, kemudian ada ditawari operasi kaki dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM di Kaliuang, Jogja pada 1990, saya pikir kalau udah operasi bisa jalan normal, ternyata tidak seperti itu. 

Tantangan selanjutnya Anda mengalami bullying dari di lingkungan sekolah...

Bully itu pasti, seperti buah simalakama. Tapi saya berani ya, ketika saya dihina saya balik menghina, saya kalahnya kalau jauh-jauhan. Kalau deket saya berani melawan. Ibu saya yang bikin saya semangat percaya diri. Dari sekali ia memotivasi, "jadi kalau kamu dihina atau dilukai orang lain lawan aja atau bilang ibu", ibu selalu bilang gitu.

Anda merupakan Sarjana Peternakan, bagaimana anda bisa memilih mendirikan Difa Bike?

Awalnya Difa Bike ini tidak sengaja, memang jauh dari peternakan. Saya juga tidak ingin jadi PNS atau pegawai, ya saya dari awal memang ingin jadi pengusaha. Tapi saya sadar usaha itu tidak lahir begitu saja, insting harus dilatih, keterampilan, jatuh bangun.

Saya sadar dengan resiko itu, saya mulai dari kuliah belajar dagang, setelah lulus kuliah saya sempat bisnis peternakan dan konsulting. Jadi beberapa design set up peternakan mulai dari buat pakan. sistem produksi hingga pengolahan limbah saya bangun disana karena ilmu saya di sana.

Saya juga punya peternakan sendiri di Solo. Tapi mulai bangkrut pada 2012, perusahaan saya alihkan ke konsulting dan resto. Saya harus terus berjalan walau sempat bangkrut. Tahun 2013 saya bantu set up resto teman, warung jus, warung susu, ya tidak jauh dari produk peternakan juga.

Kemudian 2014 itu saya mulai masuk ke dunia difabel. Waktu itu tidak sengaja juga, saya lagi salat di masjid daerah Denggung, Sleman. Saya bertemu dan diskusi dengan seorang difabel, Muryanti, ternyata apa yang saya alami bertolak belakang dengan apa yang mereka alami. Mereka terpaksa nggak sekolah, tidak diurus keluarganya, bahkan untuk pergi ke sana-sini harus menunggu belas kasihan orang.

Dari situ saya mulai mendalami, ternyata saya beruntung sekali SD-SMA diantar jemput sama orangtua. Ke mana-mana diantar, nggak susah. Tapi mereka cuma mau beli pulsa atau ke warung saja susah. Kemudian dari situ karena saya punya lumayan banyak jaringan pengusaha di Jogja banyak yang kenal. Lalu saya membuat program iseng-iseng, namanya program Mobilitas Tanpa Batas.

Jadi difabel-difabel yang kurang beruntung itu saya bantu motor, kerja sama dengan Rumah Singgah Sedekah Rombongan. Mulai tiga motor, awalnya bahkan hanya untuk mobilitas mereka saja. Lalu saya berfikir, bagaimana jika mereka bisa mendapatkan nafkah dan berkarya dengan motornya. Kemudian saya dekati beberapa pihak termasuk ojek online yang besar, tapi kan standarnya tidak bisa difabel dimasukkan ke sistem mereka. Mereka adanya roda dua dan roda empat.

Setelah itu Difa Bike dirilis, apa tantangan pertama yang Anda hadapi?

Difa Bike ini mulai Februari 2015 dan resmi dirilis pada Desember 2015. Segitu lamanya rilis karena saya sempat bingung, harus mempelajari satu demi satu individu, harus menggabungkan aksi sosial dengan bisnis. Saya pun latih driver-driver ini, bagaimana mereka harus bisa melayani orang. Mulai dari omongan, kerapian, keberaniannya untuk berinteraksi. Selain itu saya juga harus mencetak pribadi mereka.

Layanan apa saja yang ditawarkan Difa Bike?

Selain ojek orang, kami juga menerima layanan kargo antar jemput barang.

Berapa tarif yang diterapkan Difa Bike?

Dalam satu kali order, Difa Bike menerapkan tarif 5 km pertama Rp 20.000, kilometer selanjutnya dikenakan tambahan Rp 2.500 per km. Lalu masa tunggu Rp 10.000 per jam. Tapi kan tidak semua penumpang sesuai regulasi bayarnya. Kebutuhan difabel kan bukan hanya makan minum, mereka kadang berobat terapi dan sebagainya juga butuh uang banyak. Sementara itu untuk city tour, tarif dimulai dari Rp 150.000 dengan tiga rute yang sudah disiapkan.


Bagaimana cara Anda mencari driver dan apa saja syarat untuk bekerja di Difa Bike?

Saya memasuki komunitas-komunitas difabel yang ada di Jogja untuk mencari pelanggan sekaligus mencari driver yang terjamin. Awalnya Februari 2015 itu hanya tiga motor, hingga pas rilis di Desember 2018 kami mulai dengan 10 motor. Pelanggan saya awalnya difabel tuna netra dan kursi roda, orang umum belum saya pikirkan awalnya. 

Saya cari di komunitas karena saya harus mendapatkan driver terbaik. Sebab difabel itu sama kayak orang biasa, saya nggak mau dapat driver yang aneh-aneh. Beberapa difabel juga ada yang nakal. Tapi kalau ambil dari komunitas saya berani jamin mereka difabel yang terpantau, makanya saya memprioritaskan driver harus dari Jogja untuk mempermudah pemantauan.

Selain masalah driver nakal, masalah apa lagi yang muncul dalam menjalankan Difa Bike selama empat tahun ini?

Masalah lain lagi ketika harga dan trip tidak bisa ditebak, ini kan awalnya misi sosial. Jadi terkadang dibayar seikhlasnya sama difabel, ya mau gimana lagi. Lalu saya mulai terapkan tarif, program city tour dan kargo, mulai mikir orang umum, jadi biar driver ini bisa menghasilkan tanpa mengesampingkan misi sosialnya tadi.

Saya sendiri bukan aktivis difabel, saya harus belajar juga tentang karakteristik difabel. Kompleksitasnya itu banyak sekali di tahun-tahun awal kami mendirikan, dan dari awal ini non-profit tapi saya harus menghidupi juga mereka, belum lagi merawat motor. Saya cari donatur, sponsor, kami juga terima hibah, CSR, dan sebagainya untuk menghidupi Difa Bike ini.

Apakah ada rencana membuka cabang di tempat lain?

Sementara baru di Jogja, tapi sekarang saya sudah sosialisasi di Kota Solo. Mulai mendekati beberapa komunitas disana untuk mencari driver yang bagus di Solo. Sekarang mulai cari juga donatur di sekitar solo, kan perusahaan di sana banyak. Difa Bike juga mendorong masyarakat lokal untuk belajar jangan hanya memberi difabel tetapi juga membantu mereka berkembang dan mandiri.

Sementara kota lain sudah mulai berminat, seperti Surabaya, dan Bandung, mereka sudah mulai mempersiapkan infrastruktur, yang paling menghambat ini ya infrastruktur dan dana untuk memulai. Kami juga membuat standar operasional, driver kami lengkapi identitas, jaket, motornya kami modifikasi biar driver dan penumpang nyaman.

Bagaimana penggunaan aplikasi Difa Bike?

Kami sudah menggunakan aplikasi Difa Bike sejak 2017 awal, tapi kebanyakan karena sudah berlangganan mereka langsung menghubungi via telfon atau whatsapp, beberapa difabel yang kesulitan mengakses handphone tetap bisa menghubungi melalui bantuan komunitasnya untuk mengorder kami.

Memang sedikit sulit menggunakan Aplikasi ini karena kami tidak sebesar ojek online yang sudah ada karena mereka punya uang untuk mengundang orang mengunduh aplikasinya lewat promo-promo.

Bagaimana respon moda transportasi lain di Jogja terhadap kehadiran Difa Bike?

Ya awal-awal pasti ada gesekan sedikit, sempat dimaki-maki karena dikira profit oriented, tapi setelah kami jelaskan bahwa ini non-profit ya mereka memberi ruang untuk kami berkarya mengembangkan difabel.

Meski sebenarnya yang paling menghasilkan adalah layanan City Tour dan kargo, kami tetap mengutamakan penumpang difabel yang ingin beraktivitas sebagai bentuk komitmen jiwa sosial kami. Kargo dan City Tour ini hanya untuk menghidupi dapur kami saja.

Menurut anda, apakah kota Jogja sudah ramah terhadap kaum Difabel?

Sangat, kota paling ramah difabel itu Jogja. Selain Jogja itu Solo, kota lain sangat tidak ramah, menganggap difabel itu aib. Bahkan bersentuhan dengan difabel itu kayak momok seperti bertemu makhluk lain.

Motor Difa Bike sendiri sudah mendapatkan izin resmi dari pemerintah?

Kalau izin bentuk modifikasinya kami sudah memenuhi standar undang-undang disabilitas, yang belum punya izin adalah sama dengan ojek online. Grab dan Gojek juga belum ada ijin, karena kami memang satu bidang di sana.

Kami sedang menunggu regulasi yang bisa mengsahkan roda tiga menjadi transportasi umum plat kuning. Contohnya di Medan becak motor bisa plat kuning sama dengan kami.

Berapa pendapatan para driver Difa Bike dalam satu bulan?

Jadi dalam sebulan, driver mendapatkan sekitar Rp 1,2 juta sampai Rp 1,4 juta per bulan. Sementara belum bisa mengejar untuk sesuai dengan Upah Minimum Kota (UMK) Yogyakarta.

Loading...


Penulis  : -
Editor    : Rangga
Sumber : suara.com