• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Surga KBA Tanjungbinga, Belitung Dalam Kepingan Puzzle

Senin, 31 Desember 2018 | 12:28 WIB
Nelayan Bangka Belitung membawa hasil tangkapan ikan dari hasil melaut. Foto : Hairul/klikbabel.com
Loading...

Usaha tidak akan pernah menghianati hasil. Ungkapan ini terus menjadi pegangan Kampung Berseri Astra (KBA) Tanjungbinga, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Perlahan namun pasti, hasil jerih payah dari menanam mulai berbuah dan siap dipetik suatu hari nanti.

----

Aroma laut langsung menusuk hidung. Seketika. Suara deburan ombak juga perlahan-lahan mencapai telinga. Dari kejauhan, deretan rumah-rumah nelayan mulai terlihat. Hamparan ikan asin yang dijemurpun mulai tampak. Tak Banyak. Karena cuaca kurang bersahabat.

Ya. Inilah Tanjungbinga. Desa nelayan yang berada di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Hanya beberapa kilometer dari Tanjung Pandan. Pusat kota Kabupaten Belitung. Desa ini juga letaknya tidak jauh dari Pantai Tanjung Kelayang. Satu dari 10 destinasi Bali baru itu.

ff

Petunjuk arah menuju Desa Tanjungbinga, Belitung, Bangka Belitung. Foto : Hairul/klikbabel.com

Untuk mencapai Tanjungbinga tidaklah sulit. Akses jalan yang mulus tanpa lobang sedikitpun menjadi satu kemudahan. Disebut desa nelayan, lantaran sebagian besar penduduk memang berprofesi sebagai nelayan. Alhasil, saat memasuki desa ini kita akan disambut tugu perahu. Khas para nelayan. Sebenarnya, ada dua tugu di desa ini. Satu lagi adalah tugu durian. Tanjungbinga selain terkenal dengan desa nelayan. Juga dikenal karena duriannya. Manis. Bikin kangen.

Perahu-perahu yang ditambatkan juga akan mudah ditemui di desa ini. Juga ada beberapa rumah-rumah panggung. Memang, di Tanjungbinga masyarakatnya sebagian besar adalah keturunan Bugis. Namun ada juga dari Padang, Jawa bahkan Madura.

Setiap hari, mereka yang berprofesi sebagai nelayan akan pergi pagi untuk melaut dan pulang menjelang matahari terbenam. Dengan hasil tangkapan ikan yang beragam. Mulai dari jenis Pelagis kecil yaitu Lemuru, Selar, Tongkol dan Teri. Ada juga ikan besar seperti Kerapu, Kakap dan jenis lainnya. Kepiting dan cumi-cumi juga ada. Hasil tangkapan ini selalu ditunggu oleh restoran-restoran seafood. Segar. Fresh dari laut.

Laut memang menjadi andalan utama desa ini. Sumber daya ini pula yang menginspirasi KBA Tanjungbinga, untuk menjadikan desa ini sebagai desa wisata. Lewat keindahan bawah laut dan potensi ikan yang ada, KBA Tanjungbinga menawarkan konsep snorkeling. Tak sekedar snorkeling. Tapi juga, menembak ikan. Para wisatawan nantinya akan diajak merasakan sensasi menembak ikan-ikan yang berenang di alam bebas.

"Tentu sensasinya sangat berbeda saat menembak ikan di lautan luas. Ini paket wisata yang coba kami tawarkan kepada para wisatawan. Tidak hanya sebatas menyelam semata," jelas Ketua KBA Tanjungbinga, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Saterio kepada klikbabel.com, Kamis (27/12/2018).

Paket wisata berupa memanah ikan yang ditawarkan KBA Tanjungbinga, Belitung, Bangka Belitung. Foto : Ist

Saterio menceritakan, KBA Tanjungbinga memang memfokuskan diri kepada pengembangan desa wisata. Keindahan alam diberikan Yang Maha Kuasa menurut dia, patut disyukuri dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Saterio lantas menceritakan, dipilihnya Desa Tanjungbinga sebagai KBA bermula tahun 2017. Saat itu, kepala desa bertemu dengan pihak PT Astra. "Semua disiapkan dengan cepat. Profil desa diajukan," kenang dia.

Selain itu, terpilihnya Desa Tanjungbinga juga dilatarbelakangi adanya rekomendasi dari Kementerian Pariwisata RI. Ini lantaran besarnya potensi Tanjungbinga sebagai destinasi wisata yang dapat diintegrasikan dengan berbagai sektor pembangunan. Melalui KBA, Desa Tanjungbinga kata dia diharapkan, mampu meningkatkan daya tarik sebagai destinasi wisata pendukung Destinasi Strategis Nasional di Kabupaten Belitung. Menyusul, kesuksesan KBA di daerah lain.

"Kampung Berseri merupakan satu-satunya program CSR dari PT Astra Internasional Tbk yang ada di Provinsi Bangka Belitung. Jadi kita benar-benar sangat bersyukur akan hal ini," kata dia.

Dia menyampaikan, Kick Off KBA dilakukan di Bangka yang langsung diterima oleh Bupati Belitung Sahani Saleh dan Gubernur Babel Erzaldi Rosman. Juga ada Camat Sijuk dan Kepala Desa Tanjung Binga. "KBA merupakan program kontribusi sosial Astra untuk masyarakat dengan konsep pengembangan terintegrasi empat pilar program CSR. Yaitu pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan," bebernya.

Untuk pendidikan dan kesehatan sambung Saterio, KBA Tanjungbinga melakukan program KBA Go to School. Yakni memberikan pendidikan sejak dini kepada siswa sekolah mengenai pentingnya kesehatan. "Misalkan cuci tangan sebelum makan. Bukan hanya sekedar cuci tangan. Tapi juga dengan sabun dan menghilangkan kebiasaan turun temurun di Belitung," ceritanya.

Apa itu? Saterio menambahkan, ada kebiasaan masyarakat Belitung saat mencuci tangan ketika makan berage. Dalam satu wadah. Untuk orang banyak. Berage sendiri diketahui adalah cara makan masyarakat Belitung secara bersama-sama dalam satu dulang. Berisi nasi dan lauk pauk. "Kebiasaan ini kurang pas karena mencuci tangan hanya dalam satu wadah untuk beberapa orang. Makanya dengan ke sekolah-sekolah, kita ajarkan generasi emas Belitung khususnya Tanjungbinga, untuk lebih baik kedepan," sambung pria yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas Tanjungbinga ini.

Saterio mengatakan, program ini sudah berjalan di beberapa sekolah dan akan terus dilakukan. "Karena ini sangat penting," kata dia menekankan. Saterio juga mengatakan, kehadiran tim KBA ke sekolah-sekolah sekaligus memotivasi generasi Tanjungbinga untuk terus bersekolah. Pasalnya, ia menceritakan, kebiasaan asal sudah bisa baca dan tulis dianggap sudah cukup bagi orang tua di Tanjungbinga. "Selebihnya mereka akan diminta membantu orang tuanya untuk mencari ikan di laut. Bisa dapat uang," ucapnya seraya menyebutkan, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pihaknya.

Tembus Pasar Internasional

Fokus lain KBA Tanjungbinga adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Salah satu UMKM yang diberdayakan ialah usaha pembuatan keripik Tortilia Landak Laut atau Bulu Babi. Usaha ini menurut Saterio, dijalankan oleh kelompok wanita nelayan Tanjungbinga. "Sebenarnya usaha ini jauh sebelum adanya KBA sudah berdiri. Ini dilakukan oleh istri-istri para nelayan setempat," kata Saterio. Dengan dijadikannya Tanjungbinga sebagai KBA, Saterio mengaku, usaha ini semakin maju. Karena selain dibantu modal juga pihaknya membekali pengetahuan yang bermanfaat untuk perkembangan para pelaku UMKM. "Misalkan terkait perizinan edar dari dinas terkait. Kita bantu. Juga ada semacam pelatihan. Kita ikutkan mereka untuk menambah pengetahuan," ucapnya.

Landak Laut atau Bulu Babi merupakan salah satu jenis hewan di laut yang terkadang naik ke permukaan pantai karena terbawa oleh arus laut. Landak Laut memiliki duri yang cukup tajam. Juga berbisa. Jika terinjak. Racun akan masuk ke tubuh. Seketika saja. Bengkak. "Memang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Bulu Babi itu punya duri dan cangkang cukup keras namun di dalamnya memiliki kandungan nutrisi tinggi yang sangat baik bagi tubuh. Jaringan di dalam Landak Laut adalah sumber dari makanan lezat dan nutrisi tinggi. Dagingnya sangat enak," kata Saterio.

Dari penelusuran klikbabel.com, Landak Laut mengandung 172 kalori di dalam 100 gramnya. Kandungan lemak juga sangat sedikit. Namun, lemak tak jenuh sangat kaya. Landak Laut juga mengandung Omega 3 tinggi yang mampu membantu mengendalikan tekanan darah serta mengurangi resiko penyakit jantung. "Memang kaya akan manfaat. Terutama bagi tubuh. Nah ditangan ibu-ibu nelayan, kita jadikan keripik yang menjadi oleh-oleh khas Tanjungbinga," ucapnya.

Olahan laut salah satu UMKM binaan KBA Tanjungbinga, Belitung, Bangka Belitung berupa keripik landak laut. Foto : Ist

Ditanya soal pemasaran dari keripik itu? pria yang baru saja melepas masa lajangnya ini mengaku, selain memanfaatkan jaringan KBA. Juga memanfaatkan warung-warung sekitar dan toko oleh-oleh di Belitung. "Bahkan pemasarannya kini sudah menembus pasar internasional. Jepang," kata dia bangga.

Selain Bulu Babi, ada juga produk lainnya seperti dendeng daging ikan lunak oleh kelompok Al Hikmah Tanjungbinga dan ikan kering sambaladoji. "Semua dilakukan oleh istri para nelayan disini. Bahannya, ya tinggal ngambil di laut. Banyak kok," ujarnya tersenyum.

Bagaimana rasanya? ditanya demikian, Saterio malah menantang untuk mencobanya. "Mau buktikan rasanya, yuk ke KBA Tanjungbinga," ajak dia sembari berpromosi. Saterio juga menjelaskan, saat ini pihaknya juga sedang mempersiapkan tempat penjualan berbagai macam produk olahan bersamaan dengan tempat bacaan bagi anak-anak nelayan. Tempat itu, dinamakan Rumah Berangsai. "Tapi belum jadi sepenuhnya. Baru 70 persen," kata dia.

Rumah Berangsai yang didirikan KBA Tanjungbinga, Belitung sebagai tempat multifungsi. Foto : Hairul/klikbabel.com

Klikbabel.com, sempat melihat langsung Rumah Berangsai yang dibuat. Dengan penataan yang apik. Rumah sederhana tersebut dibuat dengan bambu. "Berangsai itu bahasa Belitong. Santai artinya," kata Saterio. Ia berharap, dengan berdirinya Rumah Berangsai dapat dijadikan tempat multifungsi. Seperti rumah baca, pelatihan wirausaha sampai kepada tempat pemasaran produk UMKM.

Tak Sekedar Lewat

Saterio tak menepis. Pesona Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi, lebih memikat wisatawan ketimbang Tanjungbinga. Tapi, disinilah tantangan. Saterio mengaku, bersama Astra ia akan terus berbuat hingga Tanjungbinga banyak dikenal wisatawan. "Untuk sekarang sangat minim kunjungan wisatawan ke kita. Lebih banyak ke Tanjung Kelayang dan Tinggi. Padahal, untuk mencapai tempat keduanya, harus melewati Tanjungbinga," kata dia.

Tanjungbinga sambung dia, hanya dikenal dengan durian dan rumah makan Bukit Berahu. Selebihnya, masih harus banyak promosi. Promosi. Dan promosi. Ia mencontohkan, untuk pergi ke Pulau Babi, Kepayang dan Lengkuas, sedikit sekali wisatawan yang turun dari Tanjungbinga. Padahal, dibandingkan dengan Tanjung Kelayang, jarak tempuh ke pulau tersebut lebih dekat dari Tanjungbinga. "Kelihatankan pulaunya," kata Saterio seraya menunjuk pulau tersebut.

Saterio berharap, dengan bantuan PT Astra Internasional Tbk dan stakholder lainnya bisa mewujudkan Tanjungbinga menjadi surga dunia. “Saat ini kepingan puzzle dari surga itu masih harus kami susun. Satu persatu. Hingga indah dipandang oleh siapapun,” tutupnya.

Sementara, Kepala Desa Tanjungbinga Terappe mengakui, jika desa yang dipimpinnya memiliki berbagai potensi yang menarik bagi wisatawan. Selain potensi wisatanya, juga potensi ikan asinnya. “Desa Tanjung Binga menjadi desa eksportir ikan asin terbesar di Belitung. Dalam satu bulan saja, ada sekitar 50 ton ikan asin kering siap ekspor,” kata dia.

Produksi itu belum ditambah produksi untuk kebutuhan lokal. Ikan asin Tanjung Binga dikemas setengah jadi untuk dikirim ke supermarket di Jakarta. Selain itu, desa kami juga juga pengekspor ikan kukus terbesar di Belitung. “Sebulan produksinya melebihi 10 ton untuk dikirim ke Pontianak,” ucapnya.

Ia mengakui, Tanjung Binga juga saat ini berbenah menuju desa wisata dengan memanfaatkan kapal nelayan sebagai alat transportasi ke pulau-pulau sekitar. “Selama ini, nelayan Tanjung Binga hanya memanfaatkan kapal untuk melaut. Beda dengan nelayan di Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi. Ini akan kami manfaatkan terus karena untuk pergi ke pulau, lebih dekat dari Tanjungbinga,” ucapnya.

Perahu nelayan Desa Tanjungbinga, Belitung, Bangka Belitung. Foto : Hairul/klikbabel.com

Head Enviroment and Social Responsibility division PT Astra Internasional Tbk, M. Riza Deliansyah sebelumnya menjelaskan, di Babel hanya Tanjungbinga satu-satunya kampung berseri ini. “Kami memilih ini karena ada rekomendasi dari Kementerian Pariwisata. Tanjung Binga memiliki potensi wisata yang bisa diintegarasi dalam bidang-bidang lainnya," kata dia.

Kick off ini merupakan komitmen Astra untuk mengembangkan desa dalam bidang pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, dan lingkungan melalui beberapa program yang dijalankan. Pembinaan Astra dalam kampung berseri ini merupakan program jangka panjang, hingga desa ini mandiri menurut penilaian Astra.

Dalam pelaksanaan program nanti, Astra akan menggelontorkan dana melalui program CSR nya. "Seluruh Indonesia, ada 77 kampung yang dinobatkan sebagai kampung beseri Astra, setiap kampung ini berbeda indikatornya tergantung potensi daerah, kalau Tanjungbinga ini kan sektor pariwisata, kita akan ada program disana dan ini komitmen bersama," katanya.

Disisi lain, Gubernur Babel Erzaldi Rosman mengakui, untuk mewujudkan mimpi destinasi pariwisata diperlukan super tim. Pasalnya, tantangan Kabupaten Belitung sebagai 10 daerah destinasi wisata baru diperlukan energi, waktu, biaya, serta pikiran yang tidak sedikit dalam membentuk tim yang berintegritas dan berkualitas dalam membangun negeri. "Kerjasama tim dalam membangun negeri sangat diperlukan, bukan bermental pecundang, berbicara mudah dalam implementasinya yang susah," katanya. Gubernur berharap, dapat membaca setiap data agar dapat membuat strategi pembangunan kedepan yang lebih baik, jadikan masa lalu menjadi pengalaman dengan menyongsong rasa optimis yang tinggi.(**)

 

 

 

 

Loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com