• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Sejak Jadi Cawapres, Ini Kekecewaan Maruf Amin

Rabu, 12 Desember 2018 | 13:26 WIB
Cawapres Maruf Amin
Loading...

Klikbabel.com, Jakarta - Calon Wakil Presiden Nomor Urut 01, Maruf Amin memiliki harapan besar di 2019 tidak lagi menjadi calon wakil presiden atau cawapres. Melainkan menjadi wakil presiden mendampingi calon presiden petahana Joko Widodo atau Jokowi.

"Saya berharap 2019 saya bukan hanya jadi calon, kalau 2018 kan masih calon. 2019 nanti wakil presiden benaran, harapannya begitu. Jangan terus jadi calon, mudah-mudahan jadi wapres benaran dan berbincang-bincang di mana kita membangun negara menjaga keutuhan bangsa," ujar Maruf Amin saat berbincang-bincang santai dengan wartawan, di kediamannya di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengaku tahun 2018 merupakan tahun yang mengesankan bagi dirinya. Sebab, dirinya tak menyangka bisa dipinang Jokowi menjadi cawapres. "Saya pikir sebentar lagi 2019. 2018 bagi saya tahun yang mengesankan tanpa diduga dipilih cawapres karena saya nggak merasa pantes, tapi saya dipilih artinya dipercaya oleh presiden dan partai pendukung," tuturnya.

Di sisi lain, Maruf Amin merasa kecewa karena harus menanggalkan jabatannya sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) karena menjadi cawapres. Maruf mengaku sangat menikmati jabatan sebagai Rais Aam karena bisa berdakwah dan membimbing jutaan umat muslim. "Tapi ada kecewanya, karena saya sebenarnya menikmati jabatan Rais Aam, saya bisa ceramah dimana-mana membimbing jutaan umat yang bangun keumatan. Jadi karena saya sebagai cawapres terpaksa saya begitu ditetapkan sebagai calon saya harus mengundurkan diri, itu kekecewaan saya tapi karena itu peraturan karena itu keharusan, saya ini orang yang selalu taat pada aturan," tuturnya lagi.

Meski sudah resmi mundur sebagai Rais Aam NU, Maruf Amin masih memiliki jabatan sebagai Ketua MUI aktif. Ia akan mundur sebagai Ketua MUI jika terpilih menjadi wakil presiden.

"Tapi di Majelis Ulama Indonesia tidak begitu. Aturannya tidak boleh merangkap, maka nanti kalau saya terpilih jadi wapres, baru saya mundur dari Ketua Umum MUI. Dua jabatan sangat mengesankan pada saya, karena misalnya calon harus melepaskan diri Rais Aam pengurus besar dan kalau saya terpilih harus melepaskan diri dari Ketua Umum (MUI) dan itu aturan saya harus pegang, harus patuh, tidak boleh menghindar, tidak boleh merekayasa karena kita harus patuh pada aturan. Itu catatan saya," Maruf Amin menandaskan.

Loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : suara.com