• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Omku Kepala Dinkes, Tanteku Kepala BKKBN

Senin, 12 November 2018 | 08:26 WIB
Ilustrasi. Foto : net

"Tanteku kepale BKKBN, ki nek ape?" tanya Fadhil seketika. "Wew...Omku nih kepale Dinas Kesehatan, ki nek ape jok?," jawab Munir menimpali kesombongan Fadhil sebelumnya.  Seketika, Meli yang sedari tadi mendengar obrolan keduanya lantas menegur. "Pantes tumbuh dan kembang ikak normal ok, rupe e om dan tante ikak pejabat di BKKBN dan Dinkes,” kata Meli sembari tertawa.

“Maksud ki ape Mel? Ki nek nyinggung kami ni stunting,” kata Fadhil menjawab. “Ape Dil, stunting? Ape tu jok?” tanya Munir kembali. “Ya lah rajin-rajin betanya kek ku ni, biar tau,” ucap Fadhil bangga. “Ku dek tau stunting, ku tau e stuntman,” kata Munir sembari terbahak.

Meli yang merupakan seorang petugas kesehatan lantas menjelaskan lebih jauh mengenai stunting. Fadhil dan Munir tampak manggut-manggut. Masalah stunting kata Meli, memang tak begitu akrab ditelinga kita. Padahal, stunting adalah salah satu masalah serius yang harus dihadapi saat ini. Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Umumnya karena asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Stunting juga didefenisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis). Diukur dari standar pertumbuhan anak yang ditetapkan oleh WHO. Data WHO mencatat, masalah stunting di Indonesia mencapai 7,8 juta dari 23 juta balita atau sekitar 35,6 persen. Sebanyak 18,5 persen kategori sangat pendek dan 17,1 persen kategori pendek. Dengan kejadian itu, WHO menetapkan Indonesia sebagai negara dengan status gizi buruk.

"Babel kite macem mane?" tanya Fadhil mengejar. Meli menjelaskan, dari data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung Februari tahun ini, dari total 122.807 anak balita di wilayah Babel, sekitar 27,3% atau 4.565 anak menderita stunting akibat kekurangan gizi. Mereka tersebar di tujuh kabupaten dan kota yang ada. Namun, dua daerah terparah yakni Kabupaten Bangka Barat dan Kabupaten Bangka. Untuk mengatasi masalah ini, Gubernur Babel Erzaldi Rosman sudah membentuk tim pengarah dan teknis berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 188.44 pada tanggal 23 April 2018.

Stunting kata Meli, tidak lahir dengan sendiri. Juga tidak lahir tanpa sebab. Stunting sendiri disebabkan banyak hal. Misalkan saat sang ibu hamil hingga anak berusia 5 tahun tidak mendapat asupan gizi yang baik. Itu membuat pertumbuhan sang anak terhambat. Sehingga tinggi badan lebih rendah dari standar seharusnya dalam usia mereka.

United Nations International Childrens Emergency Fund (UNICEF) dalam Logical Framework Of The Nutriotional Problems tahun 2013 menyatakan, ada tiga penyebab stunting. Pertama, penyebab dasar seperti tingkat pendidikan, kemiskinan, dan disparitas sosial budaya. Kedua, penyebab tak langsung seperti ketahanan pangan keluarga, perawatan anak dan ibu hamil, serta fasilitas atau pelayanan kesehatan. Ketiga, penyebab langsung yaitu asupan zat gizi dan infeksi penyakit.

Mendengar penjelasan itu, Munir lantas mengenang. Bagaimana ia saat masih dalam kandungan selalu diberikan gizi yang terbaik. Hal ini didapatkannya dari cerita sang ibu. "Aok memang, dari penjelasan k Mel, yang panjang kali lebar kali tinggi soal stunting, memang masuk akal," timpal Munir. Munir mengatakan, tumbuh dan kembang si anak terkadang lebih disamakan dengan faktor keturunan. Padahal, asupan gizi dan ketahanan pangan keluarga adalah hal penting untuk si anak.

"Ni lah peran BKKBN men kate tanteku," sambung Fadhil langsung. Dia mengatakan, waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan. Peran BKKBN sangat penting karena memberikan pengetahuan dan pembekalan ibu hamil untuk mencegah stunting. BKKBN memiliki peran krusial dalam memberikan edukasi terhadap orang tua. Salah satu edukasi yang diberikan adalah dengan memberikan gizi yang berkualitas pada 1.000 hari pertama kehidupan. Terdiri dari 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pada 2 tahun pertama kehidupan seorang anak. Pada masa ini nutrisi yang diterima bayi saat dalam kandungan dan menerima ASI, memiliki dampak panjang terhadap kehidupan saat usia dewasa. "Dengan kata lain, semakin bagus gizi yang diberikan sejak masa kehamilan. Semakin mengurangi resiko terjadinya stunting," timpal Meli langsung.

Berdampak Pada Perekonomian

Bukan hanya kepada sang anak, stunting yang biasa dianggap angin lalu ternyata berdampak panjang dan berdampak kepada perekonomian dari pada suatu bangsa. Studi empiris Departeman Gizi Masyarakat, FEMA, Institut Pertanian Bogor, 2016, mencatat potensi kerugian ekonomi nasional akibat menurunnya produktivitas karena stunting yaitu sekitar Rp 3.057 miliar sampai dengan Rp 13.758 miliar (0,04 sampai dengan 0,16 persen) dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Hal ini dibenarkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Data Bappenas mencatat, 9 juta anak mengalami stunting yang tersebar di pedesaan maupun perkotaan. Dari jumlah ini, kerugian ekonomi yang ditimbulkan bagi negara sebesar 2-3 persen dari PDB per tahun. Dengan PDB Indonesia Rp 13.000 triliun pada 2017, maka diperkirakan potensi kerugian akibat stunting dapat mencapai Rp 300 triliun. Wow....sangat besar. Lantas pertanyaanya, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah stunting?

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pemerintah menargetkan penurunan stunting dari status awal 32,9 persen turun menjadi 28 persen pada tahun 2019. Untuk pengurangan angka stunting, pemerintah juga telah menetapkan 100 kabupaten prioritas yang akan ditangani di tahap awal, dan kemudian dilanjutkan 200 kabupaten lainnya.

Masalah stunting bukan hanya masalah omku yang kepala dinas kesehatan maupun juga tanteku yang kepala BKKBN. Stunting adalah masalah bersama. Artinya, sekuat apapun peran pemerintah untuk menurunkan angka tersebut, tetap tidak akan bisa. Diperlukan rumus ACG guna mengatasi itu semua.

A pertama yang berarti akademisi. Akademisi bisa memulainya dari tingkatan terendah. Baik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak hingga kepada pelajar menengah atas dan mahasiswa. Ini penting karena bagaimanapun juga, anak-anak PAUD dan TK adalah generasi "Indonesia Emas". Maka, perbaikilah asupan gizi mereka sejak dini. Sedangkan pelajar menengah atas dan mahasiswa, diperlukan edukasi baik itu mengenai nikah muda, pemberian ASI ekslusif hingga kepada penyebab stunting. Ketidaktahuan akan penyebab stunting dan dampaknya, tentu akan melahirkan generasi kerdil berikutnya. 

Sementara C. Berarti community. Komunitas. Semua wajib dilibatkan. Baik yang berhubungan langsung dengan kesehatan maupun yang tidak. Ditingkat desa seperti remaja masjid, karang taruna, KNPI, komunitas seni, termasuk juga media massa dan lainnya. Kenapa ini diperlukan? karena pemerintah tidak akan bisa menjangkau secara keseluruhan. 

Terakhir G. Yakni goverment. Pemerintah sendiri. Diperlukan kebijakan guna menangani permasalahan ini. Baik dari tingkat Rukun Tetangga (RT) hingga kepala daerah. Kebijakan yang diambil misalkan 'Isi Piringku' dengan makanan bergizi seimbang. Kampanye ini perlu dibiasakan dalam kehidupan se­hari-hari. Isi Piringku menjelaskan dalam satu porsi makan terdiri dari setengah piring sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein nabati maupun hewani de­ngan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat. 

Tak kalah penting, adalah pemanfaatan kebijakan anggaran. Baik melalui APBN, APBD hingga kepada anggaran desa. Sebab bagaimanapun juga, kedepan bangsa ini butuh generasi "Indonesia Emas" bukan "Indonesia Loyo". Gimana, om dan tante, sepakat? 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

loading...
loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : klikbabel.com