• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


WA Model Steffy Burase ke Gubernur Aceh: Aku Telat 9 Hari...

Selasa, 23 Oktober 2018 | 08:12 WIB
Model Steffy Burase. Foto : net
Loading...

Klikbabel.com, Jakarta - Model Steffy Burase mengakui dekat dengan Gubernur nonaktif Aceh Irwandi Yusuf, namun tidak punya hubungan suami-istri. "Kalau hubungan suami istri tidak ada, tapi saya dekat dengan beliau," kata Steffy dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (22/10/2018). Steffy bersaksi untuk Bupati Bener Meriah Ahmadi yang didakwa menyuap Gubernur Aceh 2017-2022 Irwandi Yusuf sebesar Rp 1,05 miliar, agar mengarahkan Unit Layanan Pengadaan (ULP) Provinsi Aceh untuk menyetujui rekanan yang diusulkan Ahmadi mendapat program yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun 2018.

Klik Juga : Penyebar Hoaks Megawati Dihukum Satu Bulan

Namun, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menunjukkan sejumlah barang bukti elektronik yang menunjukkan bahwa Steffy sudah menikah siri dengan Irwandi Yusuf pada 8 Desember 2017 di Jakarta. "Saya sudah jelaskan ke penyidik. 'WhatsApp' itu dikirim dari HP Irwandi ke istrinya, lalu 'diforward' ke staf khususnya lalu 'diforward' ke saya. Pak Irwandi pengakuannya beliau mau cek ombak, boleh nikah lagi atau tidak," ungkap Steffy. "Cek ombak bagaimana maksudnya? Ini ada bicara juga buku nikah?" tanya jaksa. "Jadi benar Pak Irwandi melamar saya, kepada orang tua saya. Berencana nikah 8 Oktober, kemudian orang tua saya minta mengajukan surat persetujuan istri beliau, jawabnya nanti akan bawa. Tapi ternyata 8 Oktober itu Pak Irwandi tidak membawa surat persetujuan istri, orang tua saya keberatan tapi beliau terkadung malu banyak tamu undangan,” jelasnya.

“Akhirnya, tadinya memang acara dibatalkan. Pak Irwandi mengatakan keluarga saya agar tidak bicara kepada orang-orang," ungkap Steffy. Karenanya menurut Steffy, beberapa orang yang hadir di situ berpikir bahwa keduanya menikah padahal tidak menikah. Sedangkan mengenai surat nikah, menurut Steffy sengaja dibuat adiknya saat akan berangkat umrah.

"Surat nikah sengaja dibuat adik saya, dan dibuat 24 Maret. Setelah umrah dibuang surat nikahnya, takut jadi masalah saat lebaran ke orang tua saya, kemudian menyebar kemana-mana. Terus berita sudah heboh," tambah Steffy. Namun, Steffy bersikeras bahwa ia belum menikah dengan Irwandi. "Lalu ada percakapan 'Aku sudah telat 9 hari, aku ketakutan, besok pagi aku ke dokter. Aku ketakutan 'just in case'.  Aku hamil pun aku tak mau BW tahu’. BW itu siapa?" tanya jaksa KPK. Jaksa KPK mengungkapkan, isi WA tersebut berasal dari nomor ponsel Steffy dan ditujukan kepada Teuku Fadhilatul Amri—keponakan Teuku Saiful Bahri. Gubernur Irwandi. "BW itu Bang Wandi (Irwandi Yusuf)," jawab Steffy. "Kenapa ada percakapan seperti ini?" tanya jaksa. "Saya tak tahu kenapa, itu sering jadi 'jokes' internal saya dengan Bang Wandi," ungkap Steffy.

"Tapi percakapan ini benar kan? Ini Anda jawab lagi 'kakak sabar dulu nanti pasti ada saja faktor yang baik, BW kan masih suami kakak, BW kan masih suami kakak'. Benar ya ada percakapan ini?" tanya jaksa. "Iya karena mereka kan tahunya saya menikah," ungkap Steffy.

Steffy dalam perkara ini mengaku hanya menjadi konsultan untuk penyelenggaraan Aceh Marathon. Ia bahkan mengaku pernah menalangi biaya kegiatan dengan anggaran total Rp 13 miliar itu. "(Pembiayaan Aceh Marathon) dari Dispora (Dinas Pemuda dan Olahraga) Rp10 miliar dan BPKS (Badan Pengusahaan Kawasan Sabang) Rp2,7 miliar, serta Pemkot Sabang Rp300 juta. Dalam pelaksanaannya kami banyak sekali promo di Tokyo, Nagoya dan kota lain. Hanya waktu itu saya sangat butuh dana, saya minta untuk tolong gantikan dulu uang saya yang Rp 150 juta, tapi belum ada," kata Steffy. Uang itu baru diganti saat ia menggunakan nama Irwandi Yusuf. "Sampai saya menggunakan nama gubernur baru diganti sama Saiful," tambah Steffi.

Dalam dakwaan disebutkan pada 29 Juni 2018, Irwandi meminta Rp 1 miliar kepada Ahmadi untuk kebutuhan Aceh Marathon sehingga Ahmadi memerintahkan Dailami, Munandar dan Muyassir untuk mengumpulkan uang dari para rekanan kabupaten Bener Meriah yang telah direkomendasikan namun baru Rp 500 juta yang terpenuhi. Uang Rp 500 juta itu diserahkan Muyassir pada 3 Juli 2018 di parkiran Hotel Hermes melalui Teuku Saiful Bahri yang diterima Teuku Fadhilatul Amir sambil mengatakan "ini yang disuruh Saiful ke Bupati Bener Meriah".  Uang lalu ditransfer ke beberapa orang yaitu Jason Utomo sebesar Rp 190 juta untuk "DP ke-2 (medali)", Akbar Velati sebesar Rp 173,775 juta untuk "DP ke-2 (jersey)", dan ke Ade Kurniawan dengan keterangan (pinjaman) sebesar Rp 50 juta. Sedangkan sisanya diserahkan oleh Teuku Fadhilatul Amir kepada Teuku Saiful Bahri.

Loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : suara.com