• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Bank Dunia Cemaskan Dampak Perang Dagang Global

Kamis, 11 Oktober 2018 | 11:21 WIB
Presiden Bank Dunia (World Bank/ WB) Jim Yong Kim. Foto : net

Klikbabel.com, Bali - Presiden Bank Dunia (World Bank/ WB) Jim Yong Kim mengungkapkan keprihatinannya akan ketegangan perdagangan yang sedang terjadi antara beberapa negara-negara di dunia. Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar di dunia sedang berseteru dengan China, yang memiliki produk domestik bruto (PDB) terbesar kedua. Selain dengan Negeri Tirai Bambu, AS juga masih berseteru dengan Uni Eropa.

Klik Juga : Satu-satunya Wakil Palestina di Asian Para Games 2018

"Ya, kami sangat mencemaskan ketegangan perdagangan ini dan terus bekerja untuk mempersiapkan negara-negara [klien] bila situasi ini memburuk," kata Jim dalam konferensi pers peluncuran Indeks Modal Manusia atau Human Capital Index (HCI) di sela-sela pertemuan IMF-WB Annual Meetings di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018).

Ia kembali menegaskan pernyataan yang ia buat bersama bos IMF dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sehari sebelumnya bahwa perdagangan sangat penting bagi agenda mereka. "Perdagangan sangat penting bagi agenda kami [Bank Dunia] sebab dari sanalah masyarakat jadi terjebak dalam kemiskinan esktrem," ujarnya.

"Kami percaya peningkatkan keterbukaan perdagangan di negara berkembang dan juga negara berpenghasilan tinggi yang berdagang dengan negara berkembang itu sangatlah kritikal dan mampu mengurangi kemiskinan ekstrem," tambahnya. Ia mengutip analisis WTO yang menemukan bahwa bila ketegangan perdagangan mencapai puncaknya, pertumbuhan ekonomi global akan melambat dan di tengah perlambatan itu, negara-negara berkembang akan mengalami situasi yang lebih buruk. "Apa yang kami lakukan saat ini adalah mencoba memahami di mana posisi klien negara kami dalam rantai pasokan global, terutama mereka yang berada di tengah pusaran perseteruan dagang," kata Jim.

loading...
loading...


Penulis  : -
Editor    : A. Hairul
Sumber : CNBC