• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Hanya untuk Belajar Etika Makan Pisang, Rogoh Kocek Rp200 Juta

Kamis, 27 September 2018 | 12:48 WIB
Ilustrasi. Foto : net

Klikbabel.com, Shai - Jika sedang menghadiri acara makan malam yang resmi dan disedikan buah pisang di atas meja, kamu akan mengupasnya dengan tangan atau pisau yang berada di atas meja? Masih bingung? Orang kaya ini rela bayar Rp 200 juta untuk belajar makan pisang di atas meja makan, lho.

Dilansir melalulai laman GQ, di dalam table manner atau etika makan, ternyata makan pisang punya aturannya sendiri, lho. Kamu tetap membutuhkan pisau dan garpu untuk mengupasnya. Seperti yang diajarkan pakar etika Sara Jane Ho kepada murid sekolah kepribadiannya, Sarita Institute, di Shai dan Beijing, Cina.

Langkah pertama adalah kamu harus memotong kedua bagian ujung pisang. Setelah itu, kupas kulit bagian atas dengan membelahnya dari sisi samping kiri ke kanan atau sebaliknya. Agar terlihat rapi, letakkan kulit pisang di ujung piring dengan bagian yang lebar menutupi dua potongan ujung tadu. Untuk belajar makan pisang dengan elegan ini, para murid Sara yang kebanyakan adalah perempuan dari keluarga kaya harus merogoh kocek sebesar Rp 200 juta.

Pasti banyak orang yang heran mengapa harus membayar mahal hanya untuk belajar makan pisang. Sara yang dulu menimba ilmu etika di Swiss mengatakan jika tidak hanya belajar bagaimana etika makan pisang, namun diajarkan lebih dari itu.

Sarita Institute yang sudah eksis sejak tahun 2015 didirikan oleh Sara bersama sosialita Rebecca Li diklaim sebagai sekolah kepribadian pertama untuk kalangan elit di Cina. Sekolah ini berdiri sebagai respons dari bertambahnya jumlah orang kaya di Cina. Munculnya kebutuhan untuk beradaptasi dengan gaya hidup baru. Kursus yang terdiri dari 10-12 hari itu, murid sekolah ini akan mendapat berbagai macam ilmu. Mulai dari table manners, cara berpakaian, memilih pakaian dalam, memasak, hingga cara bersosialisasi dengan media sosial.

loading...
loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : suara.com