• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Waktu Mustajab Hari Jumat untuk Berdoa

Jumat, 14 September 2018 | 10:12 WIB
Ilustrasi. Foto : net

Klikbabel.com, Jakarta - Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a., “Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Hari Jumat itu terdiri dari dua belas jam. Dalam dua belas jam itu terdapat satu jam yang tidak ada seorang muslim yang memohon sesuatu kepada Allah pada saat itu, kecuali Allah akan memberikannya kepada muslim itu. Maka, mintalah pada akhir waktu setelah Ashar.” (HR. Abu Dawud No. 1048, dan An-Nasa’i dalam Al-Jum’ah No. 1389 ).

Hadits ini sahih, menjelaskan bahwa waktu mustajab itu berada pada waktu akhir setelah Ashar dan sebelum Maghrib. Dengan penjelasan ini, pada hari Jumat satu jam sebelum Maghrib seorang muslim seyogyanya segera bergegas mengambil air wudhu dan pergi ke masjid, lalu melaksanakan shalat tahiyatul masjid.

Setelah itu duduk dan berdoa dengan penuh kesungguhan dan kerendahan diri kepada-Nya sambil menunggu waktu shalat Maghrib. Sebab, barangsiapa yang duduk menunggu datang waktu shalat berarti sama halnya ia sedang melaksanakan shalat. Apalagi dia berdoa meminta kebaikan dunia dan akhirat kepada Tuhannya di waktu yang mulia, waktu yang Allah pasti mengabulkan doa. Waktu yang dipersilakan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya, maka orang yang mengharamkan kebaikannya pasti akan diharamkan.

Orang yang bahagia adalah orang yang sibuk dan menyibukkan diri dengannya, mempersiapkan diri menjemputnya. Dengan demikian, pada saat yang mustajab ini Allah tidak akan melihatmu lupa kepada-Nya atau melalaikan waktu yang istimewa ini. Ibnu Majah telah meriwayatkan dengan sanad hasan dari Abdullah bin Salam r.a. tuturnya: “Ketika Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam sedang duduk, aku berkata, “Kami sungguh menemukan dalam kitab Allah (Taurat): Dalam hari Jumat terdapat satu waktu yang tidak ada seorang hamba mukmin satu pun yang mendapatinya ketika ia sedang melaksanakan shalat dengan memohon sesuatu kepada Allah, kecuali Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

Abdullah melanjutkan: “Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam memberi tahuku bahwa maksudnya adalah sebagian waktu saja.” “Engkau benar, hanya sebagian waktu saja,” kataku. “Kapankah itu?” aku lanjutkan dengan pertanyaan. “Waktu itu adalah pada akhir waktu siang,” jawab Rasulullah. “Waktu itu bukanlah waktunya untuk shalat?” kataku. Rasulullah menjawab, “Ya, memang. Sesungguhnya apabila ada seorang hamba yang melaksanakan shalat, kemudian duduk dan hanya ditahan oleh shalat (menunggu shalat), maka berarti dia seperti sedang dalam shalat.” (HR. Ibnu Majah No. 1139 ).

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah r.a., tuturnya: “Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Sebaik-baiknya hari yang matahari terbit pada hari itu adalah hari Jumat. Di hari Jumat itulah Adam diciptakan, di hari Jumat itulah ia dimasukkan surga, di hari Jumat itulah ia dikeluarkan dari surga. Dan di hari Jumat itulah terdapat satu waktu yang tidak ada seorang hamba muslim satu pun yang mendapatinya ketika ia sedang melaksanakan shalat dengan memohon sesuatu kepada Allah, kecuali Allah akan memberikannya kepada hamba tersebut.”

Abu Hurairah lalu melanjutkan ceritanya: “Saya bertemu dengan Abdullah bin Salam; aku menceritakan hadits ini kepadanya.” “Saya yang paling tahu mengenai waktu yang dimaksudkan itu,” kata Abdullah bin Salam. “Beritahulah hal itu kepadaku; janganlah kau sembunyikan dariku,” pintaku kepadanya. “Abdullah menjawab, “Waktu itu ialah setelah Ashar sampai terbenamnya matahari.”

“Bagaimana bisa berada setelah Ashar, padahal Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada seorang hamba muslim satu pun yang mendapatinya ketika ia sedang melaksanakan shalat, dan waktu itu tidak boleh untuk melaksanakan shalat?” tanyaku. Abdullah bin Salam menjawab, “Bukankah Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang duduk menunggu datang waktunya shalat berarti sama halnya ia sedang melaksanakan shalat?” “ Ya,” jawabku. “Itulah maksudnya,” kata Abdullah bin Salam. (HR. Abu Dawud. No. 1047)

Sumber : 474 Ibadah Salah Kaprah

loading...
loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : hidayatullah.com