• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Rupiah Terpeleset ke Zona Merah, Ini Penyebabnya

Kamis, 13 September 2018 | 12:22 WIB
Ilustrasi. Foto : net

Klikbabel.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berbalik melemah. Penguatan rupiah yang terjadi sejak pembukaan pasar tidak mampu bertahan lama. 

Pada Kamis (13/9/2018) pukul 10:47 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.830 di pasar spot. Rupiah melemah 0,07%. 

Kala pembukaan pasar, rupiah mampu menguat 0,13%. Tidak lama setelah itu, rupiah melanjutkan penguatan hingga dolar AS dipaksa melemah ke bawah Rp 14.800.

Klik juga : Prabowo : Aku Masuk Neraka Dong?

Namun itu tidak berlangsung lama. Pelan tapi pasti, penguatan rupiah terus berkurang dan akhirnya berbalik melemah.

Sejatinya dolar AS masih agak tertekan di pasar spot Asia. Selain rupiah, hanya yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Taiwan yang melemah. Sisanya masih mampu melawan di hadapan dolar AS. 

Berikut perkembangan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama Asia pada pukul 10:51 WIB: 

 

 

Aksi Buru Dolar AS Tekan Rupiah

Dari sisi eksternal, koreksi terhadap rupiah terjadi karena dolar AS yang mulai bangkit. Pada pukul 10:53 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback secara relatif terhadap enam mata uang utama) menguat tipis 0,01%. 

Dolar AS yang sudah murah membuat minat terhadap mata uang ini meningkat. Maklum, dalam sebulan terakhir Dollar Index sudah amblas 1,98%. Akibatnya, aksi borong menjangkiti dolar AS sehingga nilainya naik alias semakin mahal. 

Tidak hanya di luar negeri, dolar AS yang sudah murah sepertinya juga membuat pelaku pasar di Indonesia melakukan aksi beli. Dolar AS yang tadi pagi sempat di bawah Rp 14.800 dinilai sudah murah, sehingga merangsang perburuan terhadap greenback. 

Klik juga : Misi Bos Baru Garuda, Tekan Kerugian di Bawah Rp1,4 Triliun

Pelepasan terhadap aset-aset berbasis rupiah untuk ditukarkan ke dolar AS membuat nilai rupiah turun alias semakin murah. Aksi jual terhadap aset berbasis rupiah terlihat di pasar obligasi, di mana sejumlah seri mengalami kenaikan imbal hasil (yield). Yield yang naik menandakan harga sedang turun akibat tekanan jual. 

Untuk obligasi pemerintah Indonesia seri acuan tenor 1 tahun, yield naik 5,2 basis poin (bps) menjadi 7,674%. Kemudian yield untuk tenor 5 tahun naik 1,2 bps menjadi 8,466% dan tenor 15 tahun naik 3,3 bps ke 8,809%. 

Jika kebangkitan dolar AS semakin nyata, maka rupiah bakal kian tertekan. Minimnya sentimen domestik di dalam negeri membuat rupiah hanya bergantung pada satu harapan yaitu intervensi Bank Indonesia (BI

 

loading...
loading...


Penulis  : -
Editor    : Zahrul
Sumber : cnbcindonesia.com