• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Bisa Rp 15.100

Selasa, 11 September 2018 | 08:59 WIB
Ilustrasi. Foto : net

Klikbabel.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan bergerak melemah dalam tiga bulan ke depan. Proyeksi beberapa analis mencatatkan range di Rp 14.800-Rp 15.100/US$.

Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk David Sumual mengatakan bank sentral AS atau The Fed masih akan menaikkan bunga. Hal ini mampu membuat dolar AS menguat. "Karena memang Fed menaikan bunga di September. Desember masih menaikkan suku bunga dan belum ada tanda-tanda investor terutama hedge fund ke emerging market. Belum ada tanda-tanda inflow sampai akhir tahun," kata David kepada, Selasa (11/9/2018).

Menurutnya, pemerintah sudah keluarkan kebijakan terkait mpor yang dinaikkan. Namun David menilai dampaknya belum signifikan.  "Karena tergantung inflow dari dana investor ke emerging market. Inflow tergantung dari perkembangan eksternal seperti berita perkembangan negosiasi perang dagang," tuturnya.

Ekonom yang juga Project Consultant di ADB, Eric Suganti memproyeksikan nilai tukar rupiah lebih moderat. "Rupiah saya perkirakan akan ada di kisaran Rp 14.600-Rp 14.800/US$ di akhir tahun ini," kata Eric.

Berikut alasan yang disampaikan Eric :

Secara umum, tekanan utama terhadap rupiah masih dari faktor eksternal: Great rotation: waktunya investor global panen profit dari emerging markets setelah banyak invest sejak 2008

Normalisasi /kenaikan suku bunga AS Risiko sentimen negatif pelaku pasar finansial global terhadap emerging market yang menular Risiko eskalasi Perang dagang AS-China

Faktor internal atau domestik:

Current account deficit Kepemilikan asing yang signifikan di saham dan SBN sehingga rupiah rentan terhadap outflows

Likuiditas valas yang mengetat dan terkonsentrasi di bank-bank besar

Banyak perusahaan yang tidak fully hedge fx exposures

"Berkaitan dengan faktor persepsi dan sentimen pasar valas dan pasar finansial global, sampai dengan FOMC meeting di 18-19 Desember 2018, rupiah dan mata uang emerging markets masih akan berada dalam tekanan," kata Eric.

"Ini karena para pelaku pasar finansial global menunggu realisasi kenaikan US FFR, setidaknya 2 kali lagi sampai akhir tahun. Namun tekanan ini sifatnya akan timbul tenggelam, tergantung persepsi dan sentimen pelaku pasar," tutup Eric

loading...
loading...


Penulis  : -
Editor    : A. Hairul
Sumber : CNBC