Klikbabel.com


Jangan Lihat Nilai Tukar Rupiah dari Levelnya

Senin, 10 September 2018 | 18:32 WIB
Ilustrasi. Foto : net

Klikbabel.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak panik melihat nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp 14.900/US$. Jangan melihat nilai tukar rupiah dari levelnya.

"Selalu kalau orang melihat pada level nilai tukar, dilihat ketika kita krisis. Nilai tukar hanya salah satu contoh indikator ekonomi, dia hanya harga relatif. Tidak bisa dilihat hanya nilai absolut. Angka Rp 15.000/US$ sekarang tidak bisa dibandingkan dengan 20 tahun lalu," kata Direktur Eksekutif Departemen Internasional BI, Doddy Zulverdi di sebuah diskusi, Senin (10/9/2018). 

"Ini pemahaman yang selalu jadi masalah, karena level nilai tukar selalu dilihat di angka psikologis."  Menurut Doddy, nilai tukar yang bergerak di negara maju seperti Australia dan Korea Selatan tidak selalu melihat levelnya. Tapi, sambung Doddy lebih kepada seberapa cepat depresiasinya.

"Kalau di Australia, Korea, nilai tukar bergerak tidak menjadi berita besar, karena tidak dilihat dari level psikologis. Tapi seberapa cepat ia bergerak. Kalau 1998 kita ke Rp 15.000/US$ dari Rp 2.000-an/US$ atau berkali lipat, sekarang hanya 8%. Jadi lihat nilai tukar dari pergerakan," katanya.

Ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat. Doddy menilai cadangan devisa yang mumpuni, rasio kredit bermasalah (NPL) dan utang luar negeri masih terkendali. "Jadi ironis kalau sekarang kita disebut akan krisis," katanya. Lebih jauh Doddy menceritakan, kondisi ekonomi global saat ini pertumbuhannya berat sebelah. Hanya mesin ekonomi AS yang bergerak cepat.

"Sedangkan Eropa, Jepang, China tidak baik. Investor jadi ragu dengan ketahanan ekonomi dunia," tuturnya. Kedua, dengan ekonomi yang terus melaju, The Fed [bank sentral AS] khawatir overheating. Pasar modal dan yield SBN mereka sudah naik terus. Dolar tidak punya pesaing, menguat sendiri. Daya tarik sangat kuat. Ya dolar terus perkasa," terang Doddy.

Belum lagi, sambung Doddy jika bicara soal perang dagang. Untuk itu, BI menggarisbawahi fokus dari kebijakan adalah menjaga stabilitas.

"BI tidak mau mematikan momentum penguatan pertumbuhan ekonomi, jadi kami juga fokus untuk pendalaman pasar keuangan dan makroprudensial untuk mitigasi. Kenaikan suku bunga murni dilakukan untuk memastikan stabilitas. Karena kita tidak bisa mengelak ketika subung di luar naik. Berbahaya apabila tidak dilakukan," tutup Doddy. 



Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : CNBC