Klikbabel.com


BPS: Agustus 2018 Deflasi 0,05%

Senin, 03 September 2018 | 12:39 WIB
Logo Badan Pusat Statistik. (Foto : net)

Klikbabel.com,Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pada Agustus 2018 mengalami deflasi sebesar 0,05% (month to month/mtm). Realisasi ini berbeda dibandingkan pada bulan Juli 2018 yang mengalami tingkat inflasi sebesar 0,28%. Adapun inflasi tahun kalender Januari hingga Agustus adalah 2,13%. Sementara, inflasi tahunan Agustus 2018 sebesar 3,20% (yoy).

"Berdasarkan perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan Agustus 2018 secara umum adanya penurunan. Di mana pada bulan Agustus 2018 terjadi deflasi sebesar 0,05%," ujar Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (3/9/2018).

Dia menjelaskan, BPS telah melakukan pemantauan di 82 kota di Indonesia. Dari 82 kota tersebut, sebanyak 52 kota mengalami deflasi sedangkan 30 kota mengalami inflasi. Pantauan BPS menyebut, deflasi tertinggi di Bau Bau, Sulawesi Tenggara dan deflasi terendah di Jember. Sebaliknya, inflasi tertinggi ada di Tarakan dan inflasi terendah di Padang Sidempuan dan Medan.

"Angka ini menggembirakan, masih di bawah target yang ditetapkan asumsi makro 3,5 plus minus 1%. Tentu diharapkan ke depan inflasi tetap terkendali," jelasnya. Sebelumnya, Pengamat Ekonomi Indef Bhima Yudistira memprediksi inflasi Agustus berada di kisaran 015%-0,12%. "Inflasi Agustus di kisaran 0,15%-0,2% mtm. Tapi lebih rendah memang dari Juli," ujar Pengamat Ekonomi Indef Bhima Yudistira kepada Okezone.

Dia menjelaskan, meski jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya, namun yang perlu diwaspadai adalah inflasi dari volatile food atau gejolak harga pangan, yang secara konsisten dari awal tahun terus naik. Menurutnya, inflasi harga pangan dipengaruhi pelemahan kurs Rupiah atau imported inflation. Penyesuaian biaya impor bahan makanan akan berdampak ke harga jual telur, daging ayam, dan daging sapi.

Ketiga komoditas tersebut diprediksi masih jadi penyumbang inflasi makanan di Agustus 2018. Sementara harga beras relatif lebih stabil karena pemerintah terus tingkatkan impor. Kendati demikian, menurutnya imported inflation di Agustus memang mulai terasa meskipun kecil. Sementara yang harus diwaspadai pada bulan September dan seterusnya.

"Saat ini inflasi tidak terlalu tinggi karena stok barang masih stok lama 3-4 bulan yang lalu. Pedagang masih bisa turunkan marjin keuntungan agar harga jual stabil," jelasnya.



Penulis  : Caturangga
Editor    : Rangga
Sumber : okezone.com