• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


PT Timah Minimalisir Kerusakan Lingkungan Dengan Teknologi Ramah Lingkungan

Selasa, 14 Agustus 2018 | 14:36 WIB
(Net)

Klikbabel.com, Pangkalpinang - PT Timah Tbk maksimalkan target produksi namun terus berupaya meminimalisir dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan dengan sistem teknologi yang ramah lingkungan. "PT TIMAH Tbk terus berupaya melakukan inovasi dan upgrading alat-alat produksinya," ujar Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Amin Haris Sugiarto.

Ia menyebutkan, salah satu inovasi alat tambang yang dilakukan adalah Tambang Kecil Terintegrasi (TKT), yakni teknologi yang digunakan dalam pola penambangan bawah permukaan atau biasa disebut sub-surface hydrolic mining, yakni penambangan semprot yang dilakukan di bawah tanah. "Penambangan timah alluvial biasanya dilakukan dengan metode semprot (hydraulic mining) dan secara terbuka (open mining)," katanya.

Menurutnya, dengan metode ini dan bekerja sama dengan masyarakat diharapkan cadangan timah akan bertambah. "Kita berharap cadangan timah 1-3 tahun ke depan bisa sampai 500.000 ton. Kontribusi yang dihasilkan oleh alat sub-surface hydrolic ini bisa mencapai 500 kg tambahan timah per bulan," katanya.

Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk. Amin Haris Sugiarto mengatakan TKT bisa dijadikan solusi sebagai pola penambangan yang cukup ramah lingkungan, sebab secara teknis alat ini terbukti mampu menambang timah aluvial dengan efektif dan efisien, tanpa harus melakukan bukaan area yang luas.

“Alat ini tidak perlu mengupas overburden dan hanya memerlukan bukaan vegetasi yang sangat minimal. Keunggulan kompetitif alat ini yakni mampu menambang timah yang spotted namun high grade, di mana alat tambang lain sulit untuk menambangnya secara ekonomis,” ujarnya.

Amin menjelakan, keunggulan lain sub-surface hydrolic mining antara lain; luasan area penambangan dan potensi limbah minimal, kegiatan land clearing dan stripping overburden minimal, penggalian bijih (ore) lebih maksimal serta akspek keselamatan (safety) bisa lebih dimaksimalkan.

“Eksperimen alat ini sudah dilakukan sejak akhir 2012. Tahun 2015 dilakukan proses paten dan mulai dioperasikan pada Februari 2018,” kata Amin.

Dikatakan Amin, saat ini teknologi sub surface mining baru dioperasikan untuk penambangan di darat. Targetnya, tahun depan dengan prototype yang sama, PT Timah akan mengoperasikannya di laut. PT Timah berencana menggandeng masyarakat sebagai mitra untuk menggunakan teknologi tersebut.

’’Sekarang yang hampir availabe ada 100 unit. Kami baru mendistribusikan sebanyak 30 unit untuk penambangan di Bangka, dan 10 unit di Belitung. Memang masih belum banyak karena pendistribusian baru dibuka pada Mei kemarin,’’ tutur Amin.



Penulis  : Septi. A
Editor    : Septi Artiana
Sumber : Klikbabel.com