• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Petani Sawit Dilema, Dijual Murah Ditahan Membusuk

Kamis, 12 Juli 2018 | 11:08 WIB
Petani sawit saat melakukan penimbangan dan pengangkutan ke pengumpul sawit. (Foto : Faisal/klikbabel.com)

Klikbabel.com,Koba - Para petani sawit dan pengumpul di Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) sedang mengalami dilema terkait harga sawit yang turun. Mereka mengeluhkan harga tandan buah segar sawit yang berangsung-angsur turun dari Rp1.350 per kilogram menjadi Rp1.050 per kilogram. 

Pabrik sawit yang terbatas menambah kesulitan para petani yang harus memaksa mereka untuk antri sesama petani untuk menjualnya. Tidak jarang ada petani yang tidak kebagian, sehingga membuat sawit makin lama dan membusuk. 

"Sekarang, setiap kali kami jual ke pabrik kami harus antri dan rebutan karena tidak semua sawit bisa ditampung pabrik. Untuk antisipasi sawit membusuk kami terpaksa jual ke pengumpul," kata Arwin Alias, petani sawit desa Arung Dalam, Kabupaten Bateng, Rabu(11/7/2018).

Ia mengatakan, penurunan harga sawit di pabrik dan sedikitnya pabrik yang tersedia berakibat rendahnya harga yang mereka terima dari pengumpul sekitar Rp650 perkilogram. "Ya mau gimana lagi. Kami hanya bisa pasrah dan menerima harga yang ditetapkan pengumpul, sebab bila ditolak maka sawit yang sudah dipanen tidak terjual dan membusuk," keluhnya.

Midi, pengumpul sawit mengungkapkan terpaksa membeli dengan harga murah dari petani kemudian menjual lagi sawit tersebut ke pabrik pengolah minyak sawit. "Harga yang diterima pabrik sekarang ini Rp1.050 paling tinggi per kilo. Sementara beban ongkos angkut dari kebun warga hingga ke desa dan menuju pabrik dibebankan kepada pedagang pengumpul. Pabrik sekarang pun posisinya jauh-jauh," ungkapnya.

Ia mengatakan, penerapan harga di tingkat pabrik menjadi penentu harga yang diberikan kepada petani sawit. Para petani dan pengumpul berharap pemerintah bisa mengawasi penerapan harga sawit di lapangan dan berharap bisa mendirikan satu hingga dua pabrik di tiap kabupatennya. "Supaya bisa stabil harganya," tutupnya.

loading...
loading...


Penulis  : Faisal
Editor    : Rangga
Sumber : klikbabel.com