Klikbabel.com


Upah Petik Lada Lebih Mahal Dari Harga Jual

Jumat, 29 Juni 2018 | 10:20 WIB
Petani Lada Babel. Foto : Hairul/klikbabel.com

Klikbabel.com, Sungailiat - Kening Haji Yanto mengernyit. Meski masa panen sahang (lada) sudah tiba, ia tak begitu sumringah. Pasalnya, harga jual sahang per kilogram tidak begitu bagus. Satu kilogram menurut Haji Yanto hanya Rp 53 ribu. "Lime puluh ribu sampai lime puluh tige ribu sekilo e," papar petani lada asal Desa Keceper, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka ini. Menurut dia, lantaran harga tersebut, ia lebih memilih menyimpan lada tersebut daripada menjualnya. "Kalau dijual rugi," tambahnya. Ia menuturkan, lada akan dijual jika harga sudah membaik atau punya kebutuhan mendesak. "Ya paling kalau pas ada perlu baru kita jual," ucapnya.

Dia menuturkan, harga lada memang sejak lama tidak mengalami kenaikan. Kalau pun ada kenaikan tidak mencapai Rp 100 ribu seperti dulu. "Tidak tahu lah apa sebab e. Kita rakyat kecil ini dak tau apa-apa permainan diatas," ucapnya.  Ia menjelaskan, harga ini tidak sebanding dengan perawatan yang dilakukan. Selain itu kata dia, saat panen, juga memerlukan tenaga orang lain untuk memanen. "Nah mereka itu diupah per hari. Bayarannya Rp 80-100 ribu per hari. Lebih mahal daripada harga lada saat dijual," ucapnya tertawa.

Ia menuturkan, pada saat panen ini memberdayakan beberapa tetangga yang memang setiap panen selalu membantu dirinya memetik lada. Mereka kata dia, dibayar Rp 90 ribu per hari. "Kalau dibayar lebih murah dari harga per kilo mana mau mereka," sambungnya.

Senada, harga lada di Kabupaten Belitung juga tak begitu mengembirkan. "Harganya terus turun, sekarang hanya Rp53 ribu perkilo, dulu sebelum lebaran Rp58ribu sekilonya jadi ini terus turun," ungkap Asnawi , petani lada asal Desa Cerucuk, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung ini. Asnawi menambahkan, penurunan harga lada ini sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Dirinya mengaku bingung dengan kondisi harga lada yang terus merosot turun.

"Turun terus, tertinggi pernah sampai harga Rp125 ribu perkilonya, kemudian diwaktu bulan puasa kemarin jauh turun sekitar Rp57 ribu dan Rp58 ribu, hingga sampai saat Ini harganya Rp53 ribu terus turun, jadi bingung juga," akunya. Dikatakannya, harga lada yang terus turun menurutnya menjadi beban tersendiri. Dilain sisi harga pupuk mulai mengalami kenaikan dan dalam kondisi mahal. "Tidak sebanding kadang dengan harga pupuk yang kita gunakan, untuk pupuk saja misalnya merek Mutiara itu sekarung Rp400 ribu, jadi tidak sebanding kalau harga masih begini," sebutnya.

Dirinya juga berharap agar pemerintah segera turun tangan untuk kembali menstabilkan harga lada di pasaran. Sehingga bisa membantu perekonomian mereka yang hidup dan makan dari hasil berkebun lada. "Berharap agar harga bisa naik dan stabil, kami jadi terbantulah semoga pemerintah bisa turun tangan dan berikan solusi,"harapnya.

Tak Tahu Resi Gudang

Asnawi mengaku belum terlalu mengenal istilah resi gudang dalam bisnis penjualan lada. "Belum tahu sistemnya bagaimana, tetapi hanya sekedar mendengar saja dan melihat di koran," terangnya. Saat ini, aku Asnawi sistem jual beli lada yang dilakukannya masih dengan cara seperti biasa yang telah lama digunakannya. Cara tersebut menurutnya juga masih dilakukan oleh beberapa petani lada yang lain di wilayahnya.
"Kita masih jual seperti biasa, kadang ada yang datang memang mau beli dan cari lada, kadang kita bawa langsung ke pembeli di Tanjungpandan, seperti biasanya," beber Asnawi.

Dirinya menyambut baik apapun bentuk dari Pemerintah dalam hal mensejahterakan petani lada terutama terkait dengan harga jual lada di pasaran. "Apapun sistemnya saya pribadi menyambut baik, karena harga lada naik turun, kami bingung padahal kami senantiasa menjaga kualitas dan hasil panen yang baik, semoga harga bisa baik dan stabil," ujarnya.

Senada, Hasan, petani asal Desa Kemuje menuturkan, Resi Gudang itu manfaatnya bisa dirasakan petani daerah jika program tersebut dapat berfungsi dengan baik. "Artinya gubernur harus mengeluarkan harga tertinggi lada termasuk batas harga terendah lada,"katanya. Namun dengan kondisi harga jual lada yang ada sekarang ini, kata dia justru membuat petani rugi‎."Masalah yang sekarang ini harga lada itu fluktuatif, artinya kalau mengacu harga sekarang, petani itu rugi,"katanya.

Terkait program Resi Gudang itu, kata dia, apakah program tersebut dapat memberikan dampak yang membuat petani Lada daerah ini sejahtera."Kalau bisa membuat kita sejahtera, tidak apa apa. Tapi kalau dampaknya malah buat kita rugi, jadi buat apa program itu dicanangkan,"katanya.

‎Untuk itu, ia meminta kepada Gubernur Babel untuk mengkaji kembali program Rresi Gudang yang dicanangkan."Karena kalau ada kebijakan gubernur yang menjadi masalah harga Lada itu sangat membantu sekali‎,"katanya. Namun menurut dia, program yang dicanangkan itu belum jelas peruntukkannya."Makanya kebijakan itu jangan setengah-setengah karena sampai saat ini soal kebijakan itu belum memberikan dampak yang baik bagi petani Lada‎," katanya.(tim)

Berita Ini Sudah Diterbitkan di Klikbabel Edisi Cetak Mingguan 24-30 Juni 2018

 

 

 

 



Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : Klikbabel.com