Klikbabel.com


Sarang Ular Pemakan Manusia Dikenal Angker

Minggu, 17 Juni 2018 | 09:42 WIB
Ular yang ditemukan memakan Wa Tiba. Foto : Ist

Klikbabel.com, Muna - Lokasi ditemukannya ular piton pemakan manusia, Wa Tiba, 54, di Muna, Sulawesi Tenggara dikenal angker. Mayat Wa Tiba ditemukan di perut ular di kebun Desa Persiapan Lawela Kecamatan Lohia Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Jumat (15/6/2018). Setelah perut ular dibedah, tubuh Wa Tiba ditemukan utuh dalam perut piton.

Menurut informasi warga di sekitar lokasi korban ditemukan dimakan ular piton, sering terlihat ular piton berkeliaran. Ular-ular ini bahkan sering berusaha memangsa hewan berukuran besar seperti sapi. "Pernah ada sapi milik warga yang dipelihara di sekitar lokasi itu nyaris ditelan ular sekitar enam bulan lalu," ujar Kepala Desa Persiapan Lawela, Faris. 

Klik Juga : Puasa Syawal Kapan Dimulai

Malah, menurut Faris, ular yang dilihat warga saat itu berukuran lebih besar dari ular yang memangsa Wa Tiba. Warga menduga, lokasi bebatuan gamping yang memiliki rongga-rongga di wilayah itu ditinggali kawanan ular piton. Kata Faris, warga desa lainnya sering membunuh ular dengan ukuran yang lebih kecil di sekitar rumah mereka. Lokasinya juga tidak begitu jauh dari kebun korban yang tewas ditelan ular."Lokasi berkebunnya korban memang angker dan dijauhi warga sekitarnya. Hanya dua orang yang berani disitu," ujar Faris.

Warga lainnya yang memiliki kebun di sekitar lokasi tempat korban di perut ular piton diketahui bernama La Haruni. Jaraknya sekitar 500 meter dari korban ditemukan. Camat Lohia, Hajar Sosial mengatakan lokasi tempat korban ditemukan tewas ditelan ular dikenal warga sekitar cukup angker. Sebab, sejumlah kejadian yang dianggap warga tidak masuk akal terjadi di wilayah itu.

Rekomendasi Redaksi : 

Baju Rossi Dicuri, Kok Bisa?

Satu Keluarga Tenggelam di Laut 

"Pernah ada orang hilang, perempuan. Pernah juga ada orang yang meninggal tiba-tiba di wilayah itu," ujar Hajar Sosi.

Hajar mengatakan, korban yang meninggal tiba-tiba itu terlihat warga tewas tergantung. Saat ditemukan, warga berjenis kelamin laki-laki itu terlilit di pohon enau oleh sarung yang dipakainya. "Memang, warga lain menjauh. Tapi, mau diapakan karena memang lokasi itu dijadikan korban sebagai tempat menanam jagung," ujar Hajar Sosi.



Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : solopos.com