Klikbabel.com


Pelemahan Rupiah Tak Berdampak Signifikan ke Ekonomi RI

Sabtu, 05 Mei 2018 | 08:50 WIB
Bank Indonesia. Foto : net

Klikbabel.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menekankan masyarakat tak perlu khawatir terhadap pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). Pasalnya, fluktuasi nilai Rupiah yang mendekati Rp14.000 per USD dinilai tak berdampak signifikan pada ekonomi dalam negeri.

"Jangan dikhawatirkan Rp14.000 seolah-olah kita alami kesulitan besar. Enggak, itu hanya psikologis saja, dan dampaknya tidak signifikan ke ekonomi," ujar Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsyah dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Jumat (4/5/2018).  Dia mengatakan, melihat dinamika global terlebih ekonomi Amerika Serikat yang melemahkan Rupiah memang harus diwaspadai, namun tak perlu dikhawatirkan. Sebab, BI selalu ada di pasar melakukan stabilitas.

"Saat ini harus kita waspadai dan cermati tetapi tidak harus membuat kita khawatir. Memang saat ini ekonomi AS sedang menunjukkan penguatannya. Dan memang sayangnya negara lain, termasuk bukan hanya emerging market, tetapi juga negara-negara maju seperti di Eropa, Inggris, dan Jerman saat ini kegiatan ekonominya tidak sesuai dengan apa yang diperkirakan," ujarnya.

Secara harian, kata dia, depresiasi Rupiah pada hari ini sebesar 0,01%. Depresiasi ini pun terjaga pada negara-negara kawasan Asia. Sedangkan, dalam seminggu ini mata uang Garuda ini melemah 0,37%, jauh lebih rendah ketimbang mata uang Argentina sebesar 8,21%. "Hari ini negara lain yang paling lemah adalah Rupee India, Baht Thailand, Renimbi China, Dolar Singapura, Ringgit Malaysia, dan Won Korea Selatan. Rupiah Indonesia hanya 0,01%. Jadi kita stabil," jelasnya.  Di sisi lain, kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan fundamental. Terlihat dari defisit transaksi berjalan (Current Account Defisit/CAD) yang masih dibawah batas aman 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Serta inflasi yang terjaga dalam sasaran 3,5% plus minus 1%.

Terlebih, diakui peningkatan rating yang didapatkan Indonesia dari lembaga internasional Moody’s, JCRA, dan R&I serta dimasukkannya obligasi negara ke dalam Bloomberg Global Bond Index. "Jadi depresiasi Rupiah jangan hanya lihat levelnya (nominal Rupiah) mendekati Rp14.000 tapi lihat dari perubahannya. Dulu Rupiah bergerak dari 12.300 ke Rp13.000 biasa saja. Sekarang dari Rp13.800 ke Rp13.920 memang mendekati Rp14.000 tapi berbeda, perubahannya kecil," jelasnya.



Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : Klikbabel.com