Klikbabel.com


Harga Lada Tak Lagi Layak Bagi Petani

Kamis, 03 Mei 2018 | 08:14 WIB
Ilustrasi Lada. Foto : net

Lada Putih Bangka atau yang dikenal dengan Muntok White Pepper memang sudah dikenal di pasar internasional sejak dulu. Muntok White Pepper menjadi brand image yang terkenal di perdagangan internasional, karena cita rasanya yang khas dengan rasa yang lebih pedas. Namun sayangnya, pedasnya lada tersebut, tidak berefek dalam "pedasnya" harga.

====

    Mang Rohadi bingung. Disaat dihadapkan dengan kenaikan harga bahan pokok menjelang puasa ramadhan dan Idul Fitri tak lama lagi. Harga jual lada, sebagai salah satu sumber penghasilan, sangat-sangat murah. Per kilogram, diakui Mang Rohadi hanya dibeli Rp 45 ribu. Padahal, ongkos yang harus dikeluarkan lebih banyak dari itu. "Beli pupuk dan lainnya, tidak sebanding dengan harga jual," kata petani asal Desa Sempan, Kabupaten Bangka ini. Akibatnya, tak sedikit petani lada yang ada mengurungkan niatnya untuk menjual hasil panen. "Men saat ni dak sapelah kek juel sahang," ujarnya dengan logat kental.

    Kekhawatiran Mang Rohadi juga diamini petani lainnya. Topik, petani asal Keceper, Kabupaten Bangka ini mengaku bingung dengan harga lada yang tak pernah naik. Menurutnya, sudah selayaknyalah lada sebagai salah satu komoditi andalan bagi Babel, mendapat perhatian. "Pas nek kampanye bay ade bahas e," keluh dia. Ditanya berapa sewajarnya harga lada per kilogram? Topik mengaku diatas Rp 100 ribu. "Kalau dak macem tu agik rugi kami ni. Tapi ntah cemane ok biar mahal agik," akunya bingung.

    Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Kemas Arfani Rahman mengamini jika harga Rp 45 ribu tersebut, sangat tak layak bagi petani. Kemas menilai, harga tersebut sudah berada diposisi paling bawah dan tidak sewajarnya. ''Itu harga yang sangat rendah. Para petani tidak akan bisa mendapatkan untung dari bertani,'' jelasnya ketika dihubungi klikbabel.com.

    Ia melanjutkan, harga minimal lada yang setidaknya dapat memberikan keuntungan bagi para petani menurutnya tidak boleh berada di bawah angka Rp. 100.000 perkilogram. Dengan harga yang terjadi saat ini bisa dipastikan para petani tidak akan bisa mendapatkan keuntungan sedikit pun dari bertanam lada. ''Ini sudah sangat rendah. Sudah tidak mungkin lagi untuk mereka (petani). Harusnya harga ini sudah menjadi perhatian, untuk memberikan solusi terkait harga lada tersebut,'' tutupnya. Dirinya juga mengharapkan kedepannya harga lada tersebut setidaknya dapat mendekati harga yang sudah selayaknya diterima para petani, setidaknya berkisar dikisaran Rp.100 ribu.

    Ditemui ditempat terpisah, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menjelaskan, untuk memperbaiki harga lada pihaknya akan mengumpulkan eksportir lada agar bisa bekerjasama dengan petani melalui koperasi lada yang sudah dibentuk pemerintah provinsi. "Kami dari Kementerian Perdagangan akan kembali memberdayakan mengumpulkan eksportir supaya menjaga kualitas, mereka akan bekerjasama dengan petani dan koperasi," ujarnya saat menghadiri Hari Konsumen Nasional di Pangkalpinang.

    Enggar membeberkan lada Babel yang memiliki kualitas tinggi kerap dicampur dengan lada asal daerah lain. Untuk mengantisipasi hal ini, maka pihaknya akan mencoba mendatangkan buyer secara langsung. "Kita akan bukakan pasar ekspor, pemerintah provinsi membentuk dan mendorong koperasi, selain itu juga mendatangkan importir dari berbagai negara," kata dia. Sebagai langkah awal, Enggar mengapresiasi Pemprov Babel yang sudah melakukan MoU dengan PT MTN Bersatu Sukses. Ini dilakukan guna membeli lada asal Provinsi Bangka Belitung sebanyak 3000 ton dalam waktu satu tahun.

    CEO PT MTN Bersatu Sukses, Nazarisham Mohamed Isa menyebutkan, kerjasama ini merupakan langkah awal lada Babel ke Singapura, Thailand dan beberapa negara lainnya. Tahap awal lada ini akan diekspor ke Thailand 45 ton, dan kedepan tak menutup kemungkinan bisa lebih meningkat seiring kebutuhan lada di Singapura dan beberapa negara yang terus meningkat. "Tahun pertama ini 3000 ton, tapi tidak menutup kemungkinan kebutuhan kita bisa sampai 10 ribu ton, karena marketing dan market place kita kan bertambah dan kebutuhan juga," katanya. Disinggung soal harga, ia mengaku akan memberikan harga terbaik kepada petani. "Kisaran harga terbaik untuk petani," kata dia.

    Sementara, Ketua Koperasi Lada Babel Magrizan menyambut baik penandatanganan kerja sama ini. Ia menilai sudah saatnya lada putih Babel bisa menembus pasar dunia karena menurutnya kualitas lada Babel memiliki kelebihan tersendiri. "Adapun lada yang kita ekspor adalah lada kualitas superior, jadi yang kita jual kualitas lada yang terbaik. Sekaligus mencerdaskan pembeli bahwa lada di Bangka Belitung ini adalah lada yang berkualitas," imbuhnya.

    Selanjutnya ia menambahkan, ekspor lada dengan kualitas yang terbaik menurutnya secara langsung akan mendidik petani saat ini agar bisa mengelola ladanya sehingga menghasilkan kualitas yang terbaik. "Dengan kita menjual kualitas lada yang baik, ini bisa mendidik petani, mereka harus bisa mengelola ladanya sehingga menghasilkan kualitas baik, jadi ini juga harus diketahui oleh petani," terangnya. Ia menuturkan, adapun kontrak jalinan kerja sama untuk tahap awal ini adalah selama satu tahun. Dengan nilai ekspor setiap bulannya adalah 45 Ton. "Untuk kontrak tahap awal ini adalah satu tahun, per bulannya adalah 45 ton jadi satu tahun ada  540 ton, dipastikan setiap tahun ada meningkat, namun juga nanti akan kita evaluasi," imbuhnya.


Pedas e Dak de Lawan

    Gubernur Babel Erzaldi Rosman mengakui jika tingkat kepedasan lada Babel mencapai 6-7 persen. Hal ini berbeda dengan Kalimantan, Makassar atau bahkan Vietnam yang hanya 2,9-3 persen. "Lada kita ini memiliki tingkat kepedasan yang tinggi, berbeda dengan lada Kalimantan, Makassar dan Vietnam yang hanya 2,9 hingga 3 persen, sedangkan kita memiliki tingkat kepedasan sampai 6 hingga 7 persen," ujarnya saat menyambut Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia (KEIN RI).

    Atas itu semua, Erzaldi meyakini jika harga lada akan baik di pasaran. "Saya senang dan berbangga KEIN bisa datang ke sini dan diharapkan ada suatu kebijakan pemerintah pusat untuk mengembalikan kejayaan lada putih petani di daerah ini," harapnya. Pasalnya, diakui Erzaldi, lada sudah tidak lagi masuk Eropa dan Amerika. "Di sini kami harap KEIN membantu pemerintah daerah memecahkan permasalahan lada agar dapat mengembalikan kejayaan lada karena kepedasan lada Babel masih terbaik di banding lada negara lainnya," ujarnya.

    Ia mengatakan saat ini produksi lada dalam satu hektar tidak bisa mencapai satu ton, sedangkan negara lain bisa mencapai 6 hingga 7 ton per hektare. Ini salah satu permasalahan turunnya produksi komoditas unggulan daerah ini. KEIN sendiri mengakui jika mutu lada putih Babel merupakan yang terbaik di dunia, sehingga peningkatan produksinya perlu terus didorong untuk meningkatkan kesejahteraan petani di daerah itu. "Dari segi mutu lada Babel adalah yang terbaik dan ini yang dicari-cari pasar dunia," kata Ketua Pokja Pangan, Industri Pertanian dan Kehutanan KEIN RI, Benny Pasaribu.

    Ia mengatakan kunjungan KEIN RI ke Bangka Belitung untuk membantu mengembalikan kejayaan lada putih yang telah memiliki "brand" di pasar dunia dengan sebutan "Muntok White Pepper". "Kami berharap pemasaran lada putih petani tidak berdasarkan mekanisme pasar. Untuk itu pemerintah perlu membimbing petani dalam memasarkan hasil panen ladanya," ujarnya. Benny mengatakan, menanam lada putih di daerah ini sudah menjadi warisan budaya nenek moyang, sehingga perlu didorong melalui pembinaan, bantuan bibit, hingga pupuk berkualitas dan pemasaran komoditas ini agar masyarakat terus bersemangat mengembangkan perkebunan ladanya. "Kunjungan ini juga guna menindaklanjuti apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo untuk menyusun road map industrialisasi sehingga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah ini," ujarnya.(rama/april/rul/ant/klikbabel)

 

 

   



Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : Klikbabel.com