• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Suku Bunga BI Harus Dikerek

Sabtu, 28 April 2018 | 09:46 WIB
Ilustrasi. Foto : Net

    Klikbabel.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) berpeluang besar mengerek suku bunga acuan jika pasar keuangan domestik terus tertekan. Bagi sejumlah ekonom, rencana itu merupakan kebijakan tepat. Bank sentral sudah mempertahankan BI 7-day repo rate di level 4,25% sejak September 2017 lalu. Suku bunga acuan rendah merupakan bentuk bantuan BI mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lebih kencang karena bunga kredit rendah.

    Sementara pada perdagangan Jumat (27/4), rupiah kembali menguar dan ada di posisi Rp 13.879 per dollar AS, sesuai data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI. Sehari sebelumnya, kurs rupiah di level Rp 13.930. Penguatan rupiah lantaran BI masih mengintervensi pasar. Febrio N. Kacaribu, Kepala Kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), menyatakan, dalam kondisi nilai tukar rupiah tertekan, BI butuh kebijakan lain selain mengintervensi pasar. "Kenaikan tingkat suku bunga acuan perlu dilaksanakan," katanya, kemarin (27/4/2018).

    Kenaikan suku bunga acuan BI bisa mengurangi ketidakpastian karena pelaku pasar masih menebak-nebak arah kebijakan. "Kurs yang relatif bisa diprediksi sangat dibutuhkan oleh banyak perusahaan. Aktivitas ekspor, impor, pembayaran utang valuta asing, dan sebagainya akan terganggu," terang dia. Memang, Josua Pardede, Ekonom Bank Permata, berpendapat, BI perlu mengikuti tren kenaikan suku bunga. Soalnya, arah pengetatan kebijakan moneter sedang berlangsung di negara maju. Jika negara-negara berkembang tak mengikuti arus, akan mendorong modal keluar.

    Sambil menunggu langkah kenaikan suku bunga acuan, Josua menyarankan, BI perlu meningkatkan kepercayaan pelaku pasar. Langkah stabilisasi di pasar valuta asing harus terus Bi lakukan, meski cadangan devisa terkikis. BI juga harus memperkuat garis pertahanan pertama dalam manajemen modal. Caranya, terus memperkuat cadangan devisa, seperti rasio cadangan devisa/M2, cadangan devisa/impor, cadangan devisa/PDB, cadangan devisa/utang jangka pendek.

    Lalu, BI perlu mengoptimalkan garis pertahanan kedua. Ini dengan memanfaatkan fasilitas bilateral swap agreement (BSA) dengan bank sentral Jepang. Juga fasilitas bilateral currency swap agreement (BCSA) dengan beberapa bank sentral di kawasan Asia. Contohnya, bank sentral Korea dan China. Selain itu, fasilitas Chiang Mai Initiative Multiteralization (CMIM).

 

loading...
loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : Kontan.co.id