Klikbabel.com


Dua Cara BI Tekan Pelemahan Rupiah

Selasa, 24 April 2018 | 22:44 WIB Dibaca sebanyak 103 kali
Ilustrasi. Foto : Net

    Klikbabel.com, Jakarta - Kondisi Rupiah awal pekan melemah. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, Rupiah berada di kisaran Rp 13.894 per dolar AS. Melemah 90 basis poin dibanding perdagangan pekan lalu.

    Center of Reform on Economics (CORE) menilai ada beberapa cara untuk menghadapi situasi pelemahan Rupiah terhadap dolar AS. Yang pertama yaitu dengan jalan melakukan intervensi. "Ini yang paling cepat dan pasti digunakan Bank Indonesia (BI) pada saat Rupiah lemah," kata Peneliti CORE Piter Abdullah kepada wartawan di Jakarta, Selasa (24/4).

    Namun begitu ada kebijakan yang lebih sustain untuk menghadapi situasi-situasi seperti yang terjadi saat ini. Yaitu melalui penerapan kebijakan capital flows management. Sayangnya, cara ini tidak bisa digunakan secara mendadak. Artinya, BI harus mengatur supaya dana yang masuk tidak mudah keluar lagi. Menurut Piter, saat ini langkah yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia belum cukup ketat untuk mengaturnya. "Ini yang memang kita relatif tidak cukup ketat mengatur (untuk menahan dana keluar)," jelasnya.

    Padahal, dana yang masuk ke Indonesia itu paling besar dalam bentuk portfolio. Namun dana yang masuk itu dengan mudahnya merembes keluar dari dalam negeri. "Jadi masuk dan keluar baik-baik, artinya keluarnya dana tidak kita bebaskan begitu saja. Sehingga kalau terjadi seperti sekarang ini," jelasnya.

    Piter menuturkan yang terjadi saat ini yaitu dana yang terparkir di dalam negeri dalam bentuk dolar AS begitu mudah keluar. Lantaran Bank sentral AS menaikkan subung dan insentif luar negeri yang begitu tinggi. Ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mempertahankan nilai tukar Rupiah. Yaitu capital control. Capital control ini bukan berarti melarang orang memiliki devisa. Tetapi mewajibkan eksportir khususnya BUMN menyerahkan hasil devisanya ke pemerintah atau "BI".

    "Hal seperti ini bisa dilakukan BI, tapi yang mana yang paling tepat itu lihat kondisinya. Kalau BI menahan subung, seharusnya BI menyiapkan lebih awal agar saat the fed naikkan suku bunga lagi itu tidak ada lonjakan capital outflow karena mereka sudah terbatasi dengan ketentuan," terangnya.



Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : Jawapos.com