• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Tambal Defisit,Jadi Alasan Pemerintah Utang Luar Negeri

Selasa, 03 April 2018 | 15:09 WIB
Ilustrasi. Foto : Net

    Klikbabel.com, Jakarta - Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia, Yati Kurniati menjelaskan pemerintah membutuhkan utang guna menutup defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) yang digunakan untuk keperluan pembangunan. Pada 2017, defisit APBN terjaga di angka 2,19 persen atau berada dibawah aturan yang ditetapkan undang-undang yakni 3 persen.

    Pinjaman luar negeri jika dilihat dari neraca pembayaran juga erat kaitannya dengan neraca transaksi berjalan. Neraca transaksi berjalan (current account) merupakan sebuah neraca yang berfokus pada transaksi ekspor dan impor (barang maupun jasa), pendapatan investasi, pembayaran cicilan dan pokok utang luar negeri, serta saldo kiriman dan transfer uang dari dan ke luar negeri. Hasil dari perhitungan komponen ini akan menciptakan saldo dari neraca transaksi berjalan.

    Adapun, Yati menerangkan neraca transaksi berjalan terus mengalami defisit. Pada 2016 defisit transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, pada 2017 defisit transaksi berjalan menyusut jadi 1,7 persen. "Semua transaksi ini digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagaimana peranan transaksi dengan sektor luar negeri,” jelas Yati dalam acara diskusi Ikatan Alumni UI di Kampus UI Salemba, Jakarta, Selasa (4/2).

    Adapun, jika dilihat dalam neraca pembayaran total defisit pada tahun 2017 sebesar 1,71 persen terhadap PDB atau senilai USD 17,3 miliar. Dalam hal ini, kata Yati, pemerintah paham betul bagaimana memperhatikan defisit transaksi berjalan. Sebab defisit transaksi berjalan yang terus menyusut bisa mengenealisasi devisa menjadi lebih kecil dibanding untuk transaksi. "Kita masih perlu aliran modal asing untuk mebiayai kegiatan ekonomi. Ini mencerminkan bagaimana Indonesia bertransaksi dengan luar negeri. Dan ini akan merefleksikan nilai tukar rupiah," tegasnya.

 

loading...
loading...


Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : Jawapos.com