Klikbabel.com


MUNTOK BANJIR (LAGI) : MOMENTUM UNTUK BERBUAT LEBIH BAIK

Senin, 19 Maret 2018 | 08:17 WIB Dibaca sebanyak 245 kali
Yulius Tiranda, Analis Kebijakan Setda Kabupaten Bangka Barat. Foto : Dok Pribadi

  Oleh:Yulius Tiranda Analis Kebijakan Setda Kabupaten Bangka Barat

Baru-baru ini, kita dikejutkan kembali dengan musibah yang menimpa saudara-saudara kita yang tinggal di wilayah Kabupaten Bangka Barat khususnya di Kota Muntok. Musibah itu, seyogyanya sudah sering bahkan setiap tahun kita alami, namun setiap kali musibah ini datang sepertinya kita kurang siap untuk menghadapinya.

    Menurut data dari berbagai sumber, ada beberapa wilayah yang menjadi pusat bencana banjir diantaranya: Desa Air Putih, Kelurahan Sungai Daeng, Kelurahan Tanjung, Kelurahan Belo Laut, Kelurahan Sungai Baru dan Desa Air Belo. Sedangkan penyebab utama musibah ini dikarenakan curah hujan yang sangat tinggi yang mencapai 269 mm/hari (sumber: pengamat curah hujan BPDASHL, Baturusa Cerucuk) yang terjadi dari hari Sabtu malam hingga minggu dini hari. Selain daripada itu, adanya gelombang pasang dari air laut menambah tinggi genangan air yang berada di wilayah-wilayah rawan banjir tersebut.

    Tidak hanya itu, masih segar dalam ingatan kita semua, bagaimana tahun lalu bencana banjir juga meluap dan menggenangi Kota Muntok yang terjadi pada tanggal 28 Januari 2017. Walau tidak memakan korban jiwa, musibah tersebut setidaknya mengakibatkan kerugian material hampir milyaran rupiah, akses transportasi darat terputus dan infrastruktur baik yang dimiliki oleh pemerintah daerah maupun propinsi rusak diakibatkan oleh terjanjang air yang turun dari Bukit Menumbing menuju ke laut.

    Dari data tersebut, seharusnya dapat kita simpulkan ada 2 permasalahan yang seharusnya menjadi asal muasal terjadinya musibah ini.  Yaitu, adanya aliran air hujan yang turun secara terus menerus dan terganggu akibat tidak adanya tempat penampungan yang memadai. Juga, padatnya jumlah tempat pemukiman warga yang berada di lokasi tempat dilaluinya air menuju ke laut. Lalu yang kedua, dorongan dari air laut yang pasang menuju ke dataran dan adanya penyempitan aliran air akibat sedimentasi yang mengakibatkan air laut meluber hingga ketempat-tempat pemukiman warga.

    Air hujan yang turun dari langit harusnya menjadi anugerah bagi kita, karena sudah berapa minggu bahkan beberapa bulan kebelakang, Kota Muntok mengalami cuaca panas yang cukup terik dan tidak ada hujan yang bisa membuat kota ini sejuk. Namun nyatanya, air hujan tersebut kini menjadi penyebab musibah karena ketidaksiapan kita baik selaku masyarakat maupun pemerintah untuk mengantisipasinya. Sebagai masyarakat, hendaknya kita dari awal menjaga agar kelestarian alam dan ekosistem yang adi di Bumi Sejiran Setason ini terjaga dengan baik. Tidak menebang pohon secara tidak sah (illegal logging), pembukaan lahan baru yang tidak sesuai aturan, penambangan Timah Inconventional (TI), membuang sampah ke sungai atau aliran-aliran air lainnya dan sebagainya.

    Dan sebagai pemerintah, seharusnya kita dapat membuatkan regulasi dan percepatan pembangunan yang jelas utamanya dibidang pengelolaan tata kota dan pengairan sehingga jalur yang akan dilalui oleh air hujan maupun air yang berasal dari Bukit Menumbing itu dapat mengalir dengan benar sesuai qodratnya. Banyak hal yang pemerintah daerah dapat lakukan dari kejadian ini. Beberapa diantaranya adalah membuat tempat-tempat penampungan air yang besar dan terstruktur. Sehingga arus air yang turun ke dataran rendah (seperti daerah Kelurahan Belo Laut dan Kelurahan Tanjung dan Sungai Baru) dapat tertampung di kolam-kolam retensi (buatan) yang disiapkan oleh pemerintah.

    Selain daripada itu, pemerintah daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR) dapat melakukan perbaikan pelebaran kanal-kanal air sungai yang menjadi alur pembuangan air dari daratan menuju ke laut. Sehingga kapasitas aliran air akan bertambah dan tidak menyebabkan air meluber hingga ke pemukiman penduduk. Dan yang terakhir, agar pemerintah daerah dapat segera memperbaiki infrastruktur yang rusak terutama jembatan-jembatan penghubungi antara kota Muntok menuju ke Pangkalpinang. Walaupun dengan keterbatasan dana yang ada di APBD Kabupaten Bangka Barat, seyogyanya alokasi dana-dana yang bisa digeser, agar dapat diperjuangkan di Anggaran Peruabahan (ABT) Tahun 2018 ini.
    
    Jangan sampai kejadian dari tahun ke tahun terus menghantui anak cucu kita, karena tidak adanya pelajaran yang dapat kita petik dari kejadian ini. Semoga melalui kejadian ini, kita dapat menjadikan ini momentum untuk berbuat yang terbaik untuk kota  yang kita cintai ini dan dapat mempersiapkan diri agar tidak mengalami kejadian yang sama dan berulang ditahun-tahun mendatang. Wallahua’lambissawab

 



Penulis  : Ira
Editor    : A. Hairul
Sumber : Klikbabel.com