Klikbabel.com


Muhammadiyah Tetapkan Puasa 17 Mei 2018

Selasa, 13 Maret 2018 | 14:58 WIB
Muhammadiyah. Foto : Net

    Klikbabel.com, Jakarta - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan awal puasa atau 1 Ramadan tahun 1439 Hijriah atau Kamis, 17 Mei 2018. Sementara 1 Syawal atau Idul Fitri 2018 jatuh di hari Jumat, 15 Juni 2018. Hal ini merujuk perhitungan astronomi atau hisab yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

    Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam maklumat yang diterima di Jakarta, Selasa (13/3/2018), menjelaskan penetapan soal 1 Ramadan itu agar dapat menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah. Ini penting untuk menyambut bulan suci Ramadan 1439 Hijriah dan hari besar keagamaan lain. Berdasarkan maklumat tersebut, 1 Zulhijah tahun ini bertepatan dengan Senin, 13 Agustus. Dengan begitu, Hari Arafah atau 9 Zulhijah bersamaan dengan Selasa, 21 Agustus. Hari Arafah sendiri menjadi acuan umat Muslim untuk melaksanakan puasa sunah Arafah sebelum Idul Adha. Selanjutnya, Idul Adha 10 Zulhijah jatuh pada Rabu, 22 Agustus.

    Muhammadiyah sendiri dikenal mengeluarkan penetapan awal puasa, hari Idul Fitri dan Idul Adha mendahului keputusan pemerintah. Alasannya, Muhammadiyah memiliki metode tersendiri dalam menetapkan hari besar keagamaan yaitu dengan perhitungan pasti ilmu astronomi atau falak. Lembaga dalam Muhammadiyah yang membidangi perhitungan astronomi penanggalan hari besar keagamaan Islam, adalah Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

    Sementara itu, pemerintah menetapkan hari besar keagamaan Islam setelah melakukan sidang isbat atau penetapan yang diikuti sejumlah ormas dan perwakilan instansi, termasuk Muhammadiyah. Sidang isbat, mempertimbangkan hasil perhitungan hisab dan juga menggunakan metode melihat bulan (rukyat). Keduanya dipadupadankan untuk menjadi landasan penetapan hari besar keagamaan Islam.

    Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti dalam banyak kesempatan, kerap meminta pengertian masyarakat umum untuk saling menghargai metode penetapan hari besar keagamaan. Baik pemerintah maupun Muhammadiyah, kata dia, memiliki dasar argumen yang kuat untuk penetapan hari keagamaan, seperti untuk menetapkan awal puasa dan lebaran.



Penulis  : Hairul Asther
Editor    : A. Hairul
Sumber : Klikbabel.com