• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Negara Bertanggung Jawab atas Nasib Karya Benyamin Sueb

Senin, 05 Maret 2018 | 09:17 WIB
Benyamin Sueb.(Foto : net)

Klikbabel.com,Jakarta - Sudah jadi rahasia umum Benyamin Sueb dikenal sebagai seorang seniman besar dengan ratusan karya yang ia hasilkan selama 56 tahun hidup. Namun sepeninggalnya, karya tersebut bak terlupa dan tak terurus.

Pengamat budaya JJ Rizal, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia menganggap, sudah menjadi tanggung jawab negara untuk menjaga kelestarian karya Benyamin Sueb. Apalagi pada 2011, Bang Ben telah diakui sebagai pahlawan budaya yang diteken oleh Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

"Negara. Dan itu sudah jelas diatur dalam undang-undang bahwa negara memajukan kebudayaan nasional," kata JJ Rizal yang mengacu pada Undang-Undang Dasar 1942 Pasal 32 soal tanggung jawab atas kebudayaan.

Menempatkan karya Benyamin Sueb sebagai bentuk kebudayaan nasional bukan sembarang catut. Benyamin Sueb diketahui pernah terlibat dalam 61 judul film, 312 lagu yang terdiri dari 165 single dan 147 lagu, dan sejumlah album lainnya. Karya-karya tersebut diakui banyak kalangan, termasuk Rizal, telah ikut mengakar dalam kehidupan masyarakat nasional terutama Betawi sebagai akar dari Benyamin Sueb, seperti lagu Kompor Meleduk atau Ondel-Ondel yang masih digaungkan hingga kini.

Hal ini senada dengan pengertian kebudayaan nasional dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mendefinisikan kebudayaan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan cipta, rasa, karsa, dan hasil karya masyarakat. "Karya Benyamin Sueb adalah artefak sejarah budaya Betawi dan Jakarta. Malahan bisa ditambahkan lagi sebagai artefak sejarah budaya pop Indonesia," kata Rizal.

"Sebab itu, bila ingin kenal Betawi dan Jakarta juga perkembangan budaya pop nasional, kudu tidak bisa tidak menjaga warisan Benyamin sebagai heritage," lanjut Rizal.

Aksi Benyamin Sueb dalam film 'Bencong Slebor' produksi Jiung Film. Aksi Benyamin Sueb dalam film 'Bencong Slebor' produksi Jiung Film. Rizal menilai, Benyamin bukan hanya sekadar seniman yang mampu menghasilkan banyak karya yang kemudian populer di masyarakat. Lebih dari itu, Benyamin dinilai sebagai manifestasi dari tradisi serta budaya Betawi dalam arti luas. "Malahan Benyamin Sueb telah menjadi pahlawan bagi orang Betawi, sejajar dengan tokoh-tokoh pahlawan lain seperti MH Thamrin, Ismail Marzuki, dan Si Pitung," kata Rizal.

"Benyamin adalah seorang seniman lengkap terbesar yang pernah dimiliki Indonesia dan banyak sumbangsihnya terhadap perkembangan budaya popular Indonesia," kata Rizal. "Lebih dari ratusan lagu dan puluhan filmnya telah menjadi bagian ekspresi rakyat, bagian penting dari ingatan historis rakyat, tak hanya rakyat Betawi, juga rakyat Indonesia pada umumnya," lanjutnya.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menjelaskan bahwa pemajuan kebudayaan dikoordinasikan oleh menteri dengan pemerintah pusat/daerah melakukan strategi serta rencana induk juga pelaksanaannya. Salah satu aspek yang turut dibahas dalam UU tersebut adalah inventarisasi yang terdiri dari pencatatan dan pendokumentasian, penetapan, dan pemutakhiran data objek pemutakhiran kebudayaan. 

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tinia Budati mengatakan Pemprov DKI kini tengah mengkaji rencana membangun museum Benyamin Sueb sebagai salah satu langkah mengamankan dan melestarikan karya si Zorro Kemayoran itu. 

Tinia menjelaskan rencana yang dimiliki Pemprov adalah memiliki taman budaya Benyamin dengan museum termasuk bagian di dalamnya. "Sampai selesai pembangunan, kami targetkan paling enggak sebelum periode lima tahun ini harus sudah jadi," kata Tinia. Gagasan museum Benyamin Sueb disebut Benny Pandawa, anak bontot Benyamin dengan istri pertamanya Noni, telah muncul sejak 2010. 

Pun, Bieb Habani, anak pertama Benyamin yang juga ikut mengelola Bens Radio, disebut Benny telah melakukan pengajuan ke Gubernur. Hingga berganti kepemimpinan sampai gonta-ganti lokasi pembangunan museum, niatan itu tak kunjung terwujud sampai kini. "Kendala lebih ke birokrasi," kata Beno Rachmat, anak keempat Benyamin sekaligus Ketua Yayasan Benyamin Sueb. "Kami sekeluarga minta kepada pemimpin siapa pun yang mimpin," harapnya.

Penyelamatan karya Benyamin, baik dalam bentuk pembangunan museum maupun lainnya, dipandang Rizal sebagai hal pertama yang mesti dilakukan. "Jika masyarakat ingin tahu pretasi dalam seni dan itu adalah buah totalitas sekaligus kejeniusan membaca fenomena kebudayaan dalam arti luas, maka Benyamin S menjadi sangat penting sebagai buku tempat belajar," kata Rizal. "Mayoritas kita tidak kenal Benyamin S. Sebab kalau kenal maka karya-karyanya akan selamat dijaga sebab harta karun nasional," lanjutnya.



Penulis  : Caturangga
Editor    : Rangga
Sumber : CNN Indonesia