• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Harga Murah, Utang Petani Lada Menumpuk

Senin, 10 Juli 2017 | 10:59 WIB
Desain Cover Klik Babel #5 (11 Juli 2017 - 25 Juli 2017). (Dok.Klikbabel.com)

“Hasil dari jual Lada habis untuk membayar hutang untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan berkebun, sistem gali lobang tutup lobang”.

 

Klikbabel.com, Muntok - Komoditas pertanian Bangka Belitung yakni Lada, menjadi primadona masyarakat beberapa tahun belakangan, pasca surutnya kegiatan pertambangan timah. Warga secara beramai-ramai kembali ke lahan perkebunan yang selama ini ditinggalkan karena tergiur ‘uang panas’ timah. Ini ditambah semakin tingginya harga jual Lada di pasaran beberapa tahun terakhir.

Namun sayangnya, dimasa-masa panen raya seperti saat ini, para petani Lada justru harus menanggung rugi yang tak sedikit. Harga Lada tiba-tiba tergerus ke posisi terendah, yakni Rp70-an ribu sejak tiga bulan terakhir. Petani harus putar otak lebih ekstra untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari, belum sebentar lagi akan dimulainya sekolah bagi kalangan pelajar, makin membuat masyarakat petani resah.

Harga Lada ditingkatan petani yang dibeli oleh tengkulak di Desa Ibul, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, contohnya, saat ini bertahan pada angka Rp75ribu. Sementara harga jual tengkulak kepada bos berikutnya seharga Rp76 ribu - Rp78 ribu.

"Penjualan Sahang petani pada tengkulak saat ini 75ribu, dan saya menjual pada bos hanya 76 - 78 ribu Rupiah, dan juga masih ada bos diatas bos," ujarnya Jani, tengkulak di Gang Bulin Desa Ibul. 

Jani menambahkan, murahnya harga Lada menyebabkan banyak petani tidak mampu membeli pupuk, sehingga mereka (petani-red) harus utang terlebih dahulu pada dirinya, "Harga Lada tinggi menjadi penyemangat masyarakat untuk berkebun, namun saat ini harga tidak sampai 100 ribu Rupiah. Hal ini sangat menyulitkan petani Lada, karena mereka harus 'ngebon' dulu untuk kebutuhan berkebun," tuturnya. 

Saat harga Lada berada dibawah Rp100 ribu, tidak sedikit petani Lada mengeluh pada dirinya terkait harga pupuk yang mahal dan juga kebutuhan pokok yang semakin mahal, "Masyarakat tidak bisa menabung sama sekali dari hasil Lada, karena mereka harus membayar utang yang sebelumnya," ungkap Jani. 

Sementara itu Rohim, salah satu petani Lada setempat menyebutkan, selama 10 tahun ia berkebun lada, tidak pernah mendapatkan pelatihan penanaman Lada, hanya mengandalkan skill yang sudah diajarkan turun temurun. Namun, saat harga Lada murah, masyarakat harus lebih mengencangkan ikat pinggang alias ngirit, itu pun Rohim harus utang dulu pada penjual, untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. 

 

Selengkapnya baca Klik Babel cetak edisi #5 (11 Juli 2017 - 25 Juli 2017)

loading...
loading...


Penulis  : Hamidun
Editor    :
Sumber : Klikbabel.com