• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Video 7 Likur Desa Mancung

Kamis, 22 Juni 2017 | 18:34 WIB
Api Likur desa Mancung Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, Provinsi Babel. (foto:dok/Maulana_komfos)

Klikbabel.com, Kelapa - Desa Mancung kecamatan Kelapa kabupaten Bangka Barat, provinsi Kepulauan Bangka Belitung kembali menggelar perayaan tradisi budaya Api Likur. Kegiatan ini untuk menyambut malam Lailatul Qadar dan hari raya Idul Fitri.

Sejak pagi warga Desa Mancung sudah memulai kegiatan bergotong royong, menyemarakkan desa melalui kegiatan Api Likur. Warga seperti tahun sebelumnya, akan membuat gapura yang dihiasi dengan lampu minyak, membentuk pola gambar tertentu.

Mereka mulai mengisi minyak tanah kedalam ratusan botol minuman bekas yang sudah dilengkapi sumbu. Botol ini yang akan digunakan untuk membentuk pola nantinya. Warga setempat menyebutnya dengan istilah Lampu Sentir. Ratusan botol ini kemudian dirangkai dengan sebuah kerangka yang terbuat dari kayu dengan ragam bentuk di setiap masing-masing rukun tetangga atau RT.

Inilah tradisi yang dikenal dengan Tujuh Likur, tradisi turun temurun dari nenek moyang warga setempat, dan sejak 13 tahun lalu tradisi ini mulai diperlombakan antar RT. RT yang menjadi pemenang mendapat trophy dan piala bergilir dari Bupati Bangka Barat dan Gubernur Babel.

“Likur ini sudah ada sejak nenek moyang dulu, dulu di depan rumah saja. Lampunya bukan dari minyak tanah, tapi dari getah karet beku di mangkok, dicari sagu rumbiah untuk sumbunya, pakai Lokan atau tempurung kelapa untuk alasnya. Itu dinyalakan di depan rumah,” ungkap tokoh masyarakat desa Mancung, Rogimin, Rabu (21/6/2017).

Satu gerbang api likur dikerjakan selama satu minggu dan secara gotong royong, mulai dari anak-anak hingga orang tua bahu membahu membuat gerbang ini.

“Dari 1 sampai 10 itu disebut 10 likur, tapi yang dirayakan pas malam 27 Romadhon nya. Nama Likur itu dari 21 Romadhon sudah 1 likur, malam yang ketujuh dirayakan. Setiap tahun itu diperingati dan diperlombakan di desa Mancung,” lanjutnya.

Jelang Maghrib atau usai berbuka puasa, satu persatu Lampu Sentir yang sudah disusun warga dinyalakan. Perlahan terlihat wujud dari rangka gerbang api likur ini menyerupai berbagai macam bentuk, seperti Masjid, peta pulau bangka, bentuk orang bersilat.

Bahkan ada juga yang mebuat gerbang melambangkan kerukunan umat beragama, yakni menyerupai masjid dan gereja, tak lupa tulisan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) juga tampak jelas di gapura ini.

Bagi warga desa mancung, Tujuh Likur sudah menjadi tradisi bagi masyarakat dengan tujuan menyambut malam Lailatul Qadar dan Idul Fitri. Adat istiadat ini tetap warga pertahankan pada bulan Ramadhan sebelum Lebaran dan diharapkan menjadi icon wisata religi kabupaten Bangka Barat.

Tradisi budaya api likur ini, membuat para fotografer beramai-ramai untuk mengabadikan moment tersebut, dan mereka berharap tradisi budaya api likur di desa Mancung jangan sampai punah.

“Acara ini memang tradisi yang wajib kita lestarikan agar bisa berkelanjutan, supaya bisa dilihat juga oleh anak cucu. Pemerintah harus mensuport ini, karena kayak kami para fotografer, yang seperti ini paling diburu dan dicari. Nilai artistiknya sangat kuat, dan mampu membuat foto berbicara,” terang Egan, salah satu pengunjung yang juga anggota Komunitas Fotografer Sungailiat (Komfos).

“Penasaran mau lihat bagaimana sebenarnya Tujuh Likur itu. Selama ini kita taunya dari media sosial. Membuat kami pengen datang langsung kesini. Setelah dilihat menarik, indah, mengagumkan, bagus sekali,” ungkap Muslimah, pengunjung asal Jakarta.

Kameraman : Maulana (Komfos)

Editor : Muri Setiawan

loading...
loading...


Penulis  :
Editor    :
Sumber : https://www.youtube.com/embed/HJH9InZqPOo