• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


219 SMK di Revitalisasi

Selasa, 30 Mei 2017 | 14:57 WIB
UJian UNBK di SMK 1 Pangkalpinang. (foto: Arie S Rivanti/klikbabel.com)
Loading...

 

Dengan revitalisasi ini, dari tiga kurikulum di SMK ada satu kurikulum yang dirancang lebih fleksibel. Artinya, kurikulum ini menyesuaikan dengan kebutuhan industri.

 

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan Program Revitalisasi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) sebagai salah satu bentuk implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. Terdapat 219 SMK yang akan direvitalisasi langsung oleh Kemendikbud, sedangkan sisanya diharapkan dapat direvitalisasi oleh pemerintah provinsi.

"Kepada kepala dinas pendidikan provinsi, 219 SMK ini kami (Kemendikbud) tangani secara terpusat dulu melalui Direktorat Pembinaan SMK. Kami mohon SMK lain yang jumlahnya sangat banyak mohon revitalisasinya ditangani pemerintah provinsi. Kami siap membantu," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad.

Kke-125 SMK yang direvitalisasi meliputi bidang prioritas, yaitu bidang maritim/kelautan, pariwisata, pertanian, dan industri kreatif. Sedangkan 94 SMK adalah bidang keahlian penunjang program prioritas nasional. 219 SMK yang akan direvitalisasi Kemendikbud tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Aceh sampai Papua. SMK itu antara lain berlokasi di Aceh (4 SMK), DI Yogyakarta (13 SMK), DKI Jakarta (8 SMK, Gorontalo (3 SMK), di Jawa Barat (21 SMK), di Jawa Tengah (35 SMK), dan di Papua Barat (3 SMK).

Hingga tahun 2019, Kemendikbud akan merevitalisasi 1.650 SMK dari total SMK di Indonesia sebanyak  13.600 SMK, sedangkan revitalisasi SMK lainnya diserahkan kepada pemerintah provinsi. Revitalisasi tahap pertama sebanyak 219 SMK ini diharapkan tahun depan telah mengalami kemajuan dan perkembangan.

"Kemungkinan pada akhir tahun, mungkin sekitar bulan Oktober atau November, Presiden Jokowi dan Mendikbud Muhadjir Effendy akan mengunjungi SMK-SMK itu untuk melihat apa yang sudah dihasilkan," tutur Hamid.

Proses revitalisasi 219 SMK itu tidak akan berhenti sampai akhir tahun 2017. Revitalisasi akan terus dilakukan sampai SMK-SMK itu memenuhi komponen-komponen dalam Program Revitalisasi SMK.

Kekurangan pendidik atau guru produktif di SMK juga menjadi salah satu kendala dalam menghasilkan lulusan SMK yang berkualitas. Data dari Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, SMK-SMK di Indonesia kekurangan 91.000 guru produktif di SMK. Karena itulah Kemendikbud menjalankan Program Keahlian Ganda untuk merekrut guru adaptif menjadi guru produktif.

Kemendikbud sendiri akan merevitalisasi ruang praktik atau laboratorium, serta peralatan dan bahan praktik agar sesuai dengan perkembangan di dunia industri. Kerja sama antara SMK dengan DUDI juga harus diperkuat.

"Selama ini sudah ada kerja sama, tapi kurang intensif. Perlu adanya intensitas lebih lanjut agar merekatkan kembali kerja sama antarlembaga. Tidak mungkin lulusan SMK diterima (kerja) jika tidak ada hubungan erat dengan industri," kata Hamid.

Sementara, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani mengapresiasi peluncuran program revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruang (SMK). Puan yakin akan ada link and match atau sinergi diantara sekolah dengan dunia industri dan usaha.

“Saat ini, data yang ada mengatakan bahwa 63% tenaga kerja Indonesia itu berpendidikan SMP ke bawah,” kata Puan.

Lanjut Puan, kompetensi SDM sangat berperan dalam kemajuan ekonomi atau kemajuan bangsa ke depan. Karena itu, lulusan SMK yang berkualitas harus ditunjang dengan peningkatan kualitas guru atau pendidik. Saat ini Indonesia kekurangan guru yang bisa mendukung program kejuruan dari SMK. Karena itu, akan ada sertifikasi guru untuk peningkatan kualitas guru dan pengadaan guru teknis untuk mengakomodasi program revitalisasi SMK ini.

 

Empat Fokus

Empat poin yang menjadi fokus revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang diamanatkan dalam Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2016. Keempat poin tersebut melingkupi revitalisasi kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, kerja sama, dan lulusan.

Kurikulum untuk jenjang SMK sering dianggap kaku oleh berbagai kalangan. Akibatnya, sulit untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang siap dipakai oleh dunia usaha dan industri. Dengan revitalisasi ini, dari tiga kurikulum di SMK ada satu kurikulum yang dirancang lebih fleksibel. Artinya, kurikulum ini menyesuaikan dengan kebutuhan industri.

Setelah kurikulum, revitalisasi juga dilakukan dari sisi pendidik dan tenaga kependidikan, terutama guru. Selain ketersediaan, revitalisasi juga menyasar pada perbaikan kompetensi guru. Sebagai solusi jangka pendek, pemenuhan kebutuhan guru produktif dilakukan melalui program keahlian ganda. Untuk jangka panjang masih menunggu dicabutnya moratorium PNS yang dijadwalkan berakhir 2019 mendatang.

Revitalisasi yang juga tidak kalah penting adalah berkaitan dengan kerja sama antara SMK dan dunia usaha dunia industri (DUDI). Bidang kejuruan merupakan bidang lintas sektor. Untuk itu juga perlu perbaikan kerja sama dengan perguruan tinggi maupun antar-kementerian.

Fokus terakhir adalah revitalisasi kualitas lulusan. Setiap lulusan dari SMK harus melalui uji kompetensi dan sertifikasi yang diakui DUDI. Karena kualitas lulusan SMK akan menentukan apakah SMK bisa merespons kebutuhan DUDI atau tidak.

Salah satu tolok ukur yang dapat digunakan untuk merespons masalah kualitas lulusan SMK adalah melalui LKS. Hal tersebut terlihat lewat fakta bahwa sekolah yang berhasil mengirimkan peserta didiknya ke ajang ini merupakan SMK terbaik di daerahnya.

Loading...


Penulis  :
Editor    :
Sumber : Klik Babel