• EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Klikbabel.com


Satu Keluarga Bertahan Hidup di Gubuk Reot

Selasa, 02 Mei 2017 | 22:54 WIB
Kediaman Zubaidah, warga Tempilang Kabupaten Bangka Barat. (foto: muri s/ klikbabel.com)

Hiburan satu-satunya adalah canda tawa saat keluarga ini berkumpul di malam hari.

 

Klikbabel.com, Muntok - Jauh dari pusat ibukota kabupaten Bangka Barat, provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tinggal satu keluarga dalam kondisi memprihatinkan.

Zubaidah, Ibu beranak tiga, bersama Suaminya terpaksa tinggal di rumah yang tidak layak ditempati. Bahkan, bisa disebut sebuah gubuk reot, sungguh miris.

Kediaman berukuran 5 kali 3 ini, terletak di Dusun Tegak Desa Benteng Kota Kecamatan Tempilang Kabupaten Bangka Barat. Akses jalan menuju ke rumah Zubaidah, hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua, karena sempitnya medan jalan.

Disinilah Zubaidah dan keluarga kecilnya tinggal. Rumah yang berdindingkan triplek yang sudah terkelupas, pintu yang hampir roboh. Bahkan, di beberapa sudut dinding, hanya dipasangi pelepah daun pisang dan kulit kayu. Sehingga apapun yang terjadi dari dalam rumah, sangat dengan mudah dilihat para tetangga.

Tak ada kamar tidur, tak ada ruang keluarga bahkan rumah ini tidak memiliki toilet. Semua aktifitas dilakukan di satu ruangan. Zubaidah dan keluarga tidur beralaskan tikar seadanya, di lantai rumah yang masih berupa tanah.

Dipan satu-satunya yang dimiliki, hanya sanggup menahan beban satu orang karena sudah nyaris ambruk. Tidak ada perabotan meja kursi, lemari, ataupun televisi di rumah ini. Hiburan satu-satunya adalah canda tawa saat keluarga ini berkumpul di malam hari.

Namun, bagi keluarga kecil ini, rumah ini seperti istana. Hanya inilah yang mereka miliki sekarang. Namun, kekhawatiran sering kali menghinggapi Zubaidah, terutama saat hujan turun. Dirinya bersama keluarga harus mencari sisi ruangan yang tidak basah, untuk berteduh.

Pekerjaan sebagai pelimbang timah, tidak bisa mencukupi kehidupan sehari-hari. Zubaidah dan suami pun mencari makan dengan membantu para tetangga, sebagai buruh cuci atau membersihkan kebun warga sekitar.

Meski hidup dalam keterbatasan, Zubaidah tetap bertahan. Dirinya pasrah, walaupun tidak ada bantuan dari pemerintah daerah setempat.

Salah seorang tokoh masyarakat sekitar, Satria merasa miris dan tergerak hatinya untuk membantu keluarga ini. Satria berencana merombak kediaman Zubaidah, menjadi rumah layak huni yang dikumpulkan dari sumbangan masyarakat desa setempat, melalui Satria. Dirinya pun sempat tak kuasa menahan air mata, saat mengetahui masih ada keluarga yang hidup tidak layak, di tengah kondisi perekonomian saat ini.

Keluarga Zubaidah, adalah sebagian kecil potret buruknya perhatian pemerintah daerah, kepada masyarakatnya. Agar tidak ada lagi keluarga yang tidak mendapat kehidupan yang layak, baik rumah, pangan dan kebutuhan pokok lainnya.

loading...
loading...


Penulis  :
Editor    :
Sumber : https://www.youtube.com/embed/LXF7QEbyH1Q